35 years Bond of Friendship

DSC_5270 DSC_5322 DSC_5351 DSC_5359 DSC_5377 DSC_5401 DSC_5424 DSC_5431 DSC_5438 DSC_5446 DSC_5488 DSC_5507 DSC_5543 DSC_5568 DSC_5570 DSC_5574 DSC_5589DSC_5267

Struktur Organisasi Forkom 81 periode 2014 – 2017

SO

Final pemilihan dan pelantikan ketua Forkom 2014-2017

IMG_9452

 Thank’s to Temi for 3 years 2011-2014 amazing dedicated to Forkom and welcome to Stevi for lead Forkom 2014-2017, 30-11-2014 pemilihan final dan pelantikan ketua Forkom 2014-2017 hasil sbb:Vote by sms Stevi 129, Temi 42, Vote on site Stevi 12 ,Temi 7, Total Stevi 141 Temi 49, suara masuk 210, suara sah 190, alumni yg terdata 354 seluruh alumni81 446, partisipan 59,32%

stevie

Other foto :

IMG_0581 IMG_9275 IMG_9373 IMG_9387 IMG_9428 IMG_9450 IMG_9452 IMG_9454 IMG_9461 IMG_9463 IMG_9480 IMG_9490 IMG_9499 IMG_9521 IMG_9536 IMG_9537 IMG_9538 IMG_9549 IMG_9569 IMG_9572 IMG_9578 IMG_9586 IMG_9587

Category: Headline di Home, Homepage slideshow  |  Tags:

GARAGE SALE Forkom SMAK St. Louis ’81

Posted by on Monday, October 27, 2014 · 1 Comment  

Slide-Garage Sale3

Anda bingung menyimpan barang bekas anda ??

Kali ini FORKOM 81 mengadakan GARAGE SALE

Barang tidak terpakai memenuhi rumah ? Meubel bekas, alat elektronik, alat-alat dapur, alat olah raga, komputer kuno, blender, sisa renovasi bangunan, variasi mobil lama ?
Mari berpartisipasi dengan  menyumbangkan barang-barang bekas yang tidak terpakai lagi di rumah anda, sekaligus membuat rumah jadi lebih lapang dan rapi.

Menurut IKIPEDIA 81, GARAGE SALE berarti barang yang menggangu Dan tidak terpakai di RUMAH dapat disumbangkan ke FORKOM 81.
Baik dalam keadaan masih baik, bekas maupun rusak .

Ada 3 kategori barang tidak terpakai  ….

GARAGE SALE-table

Caranya ?
GAMPANG SEKALI , cukup dengan menghubungi Saudara Yohanes Kwa, isi formulir ini dan saudara Didik akan menjemput barang di tempat anda !

 klik di sini untuk download Formulir Garage Sale

 

Form GarageSale2014 klik di sini untuk download Formulir Garage Sale di atas

 

Category: Headline di Home, Homepage slideshow  |  Tags:

FAMILY GATHERING FORKOM 3 – WISATA KULINER, SEMARANG

Posted by on Thursday, March 27, 2014 · Leave a Comment  

 

Tanggal. 25-27 Mei 2014

PESERTA MAX 80 orang, FIRST COME, FIRST SERVE, ayo buruan daftar !!!

 

Tanggal. 25 Mei

Surabaya-Semarang berangkat dengan pesawat Lion Air jam 08.00-09.10.

Tiba di Bandara dijemput Bus, langsung wisata ke Gereja Belenduk, Lawang Sewu & Kelenteng Sam Poo Kong,

Klenteng_sampookong

dilanjutkan Lunch langsung menuju Salatiga menginap di Laras Asri Resort & Spa ( karena Hotel ini punya lebih dari 35 Rooms tipe yang sama )

Laras_asri_resort

Setelah cek in, istirahat, mandi dilanjutkan Dinner + Acara bersama dengan Program FORKOM, Arisan, Game-game, Nyanyi, dan lain-lain (L,D)

 

Tanggal. 26 Mei

Jam 09.00 pagi, setelah Breakfast langsung cek out Hotel naik Bus menuju AMBARAWA (+/- 45 menit ) untuk naik Kereta Api Uap bergerigi dengan rute Ambarawa – Tuntang – Ambarawa ( yang hanya bisa kita nikmati di sini ) sambil menikmati indahnya pemandangan,menghirup udara pegunungan & Gua Kerep. Perjalanan dari Kereta Api Uap dilanjutkan dengan Bus dari Ambarawa ke Semarang, Lunch bersama di Kopi Banaran & wisata di Kebun Kopi.

Ambarawa_kuliner

Cek in di Horison Hotel, jalan Pandanaran, Semarang ( under management by Horrizon Hotel ). Setelah istirahat + mandi bisa kuliner + beli oleh-2 di sepanjang Simpang Lima. Berkumpul untuk Dinner bersama dan setelah itu acara bersama.(B,L,D)

Hotel-horisonsemarang

Tanggal. 27 Mei

Breakfast dilanjutkan Acara bersama. Tak terasa saatnya tiba untuk berpisah dan berkemas. Cek out Hotel, diantar Bus menuju Bandara. Sayonara kita berjumpa lagi di FG ke 4 (B.L)

Balik Surabaya dengan pesawat Garuda Indonesia jam 12.40.

Biaya Rp. 1.100.000,- /orang, Termasuk : 2 malam hotel ( di Salatiga + Semarang ), Bus, Kereta Api Uap, Makan Breakfast, Lunch, Dinner, Wisata sesuai dengan yang tertulis di jadwal acara.

Tidak termasuk Ticket pesawat PP.

 

Notes : Harga Ticket pesawat saat ini +/- Rp.1jt-1,2 jt

 

Karena kapasitas max 80 orang maka bagi yang berminat diharapkan segera melakukan rsvp keikutsertaan & transfer ke rekening :

Helen Mariana, BCA  AC. 410.0098356

dengan mencantumkan nama + kelas

 

Untuk rsvp ticket pesawat bisa email ke

helenmariana@vijayasub.com

Dengan memberikan data : nama + tanggal lahir sesuai ktp + no. hp

(Harga ticket tidak mengikat sesuai harga pada saat booking, karena long w’end & hanya ada 1 airlines (Lion Air) yang berangkat jam 08.00 dari Surabaya – Semarang.

 

Bagi teman2 di Jakarta dll dapat mencocokkan dengan jadwal teman2 dari Surabaya.

Info Flight bagi teman-2 Jakarta dapat berangkat dengan pesawat Sriwijaya jam 8.00-9.00 atau Garuda & balik dari Semarang dapat booking pesawat dengan penerbangan jam 12 siang ke atas.

 

Bravo Forkom 81

Foto Foto kenangan selama Family Gathering Forkom ke 3 ini.

Foto fotoIMG-20140526-WA000 IMG-20140526-WA001 IMG-20140526-WA002 IMG-20140526-WA003 IMG-20140526-WA004 IMG-20140526-WA005 IMG-20140527-WA004 IMG-20140601-WA000 IMG-20140601-WA001 IMG-20140601-WA002 IMG-20140601-WA003 IMG-20140601-WA004 IMG-20140601-WA005 IMG-20140601-WA012 IMG-20140601-WA013 IMG-20140601-WA014 IMG-20140601-WA015 IMG-20140601-WA016 IMG-20140601-WA017 IMG-20140601-WA018 IMG-20140601-WA019 IMG-20140601-WA021 IMG-20140601-WA022 IMG-20140601-WA023 IMG-20140601-WA024 IMG-20140601-WA026 IMG-20140601-WA027 IMG-20140601-WA029 IMG-20140601-WA030 IMG-20140601-WA031 IMG-20140601-WA032 IMG-20140601-WA033 IMG-20140601-WA034 IMG-20140601-WA035 IMG-20140601-WA036 IMG-20140602-WA000 IMG-20140602-WA001 IMG-20140602-WA002 IMG-20140602-WA003 IMG-20140602-WA004 IMG-20140602-WA006 IMG-20140602-WA007 IMG-20140602-WA008 IMG-20140602-WA009 IMG-20140602-WA010 IMG-20140602-WA011 IMG-20140602-WA012 IMG-20140602-WA013 IMG-20140602-WA014 IMG-20140602-WA015 IMG-20140602-WA016 IMG-20140602-WA017 IMG-20140602-WA018 IMG-20140602-WA019 IMG-20140602-WA020 IMG-20140602-WA021 IMG-20140602-WA022 IMG-20140602-WA023 IMG-20140602-WA024 IMG-20140602-WA025 IMG-20140602-WA026 IMG-20140602-WA027 IMG-20140602-WA028 IMG-20140602-WA029 IMG-20140602-WA030 IMG-20140602-WA031 IMG-20140602-WA032 IMG-20140602-WA033 IMG-20140602-WA034 IMG-20140602-WA035

Category: Aktifitas (BLOG), Headline di Home, Homepage slideshow  |  Tags:

APA ITU FORKOM ?

Posted by on Tuesday, December 24, 2013 · Leave a Comment  

Ide awal didirikannya FORKOM SMAK St Louis 81, setelah selesainya REUNI 30 years bonds of friendship, 2 tahun yang lalu, digagas oleh Teni Hendri pada waktu itu, kemudian dibentuklah pengurus dan seksi-seksinya (lihat www.forkomsmakstlouis81.com).

Tujuannya adalah:

Mempererat tali rasa persaudaraan antar alumni 81, karena setelah suksesnya penyelenggaraan reuni 2 tahun yang lalu tersebut, jika dibiarkan tanpa ikatan apapun, maka sia-sialah kerja keras kita semua.

Setelah  berumur 2 tahun apa saja yang telah diperbuat Forkom?

Sebagian besar tujuannya tentu belum bisa direalisasikan, mengingat terbatasnya kas yang ada. Kas yang ada pun, adalah sisa dari reuni 2 tahun yang lalu, yang jumlahnya tidak sampai Rp. 50 juta.

Sehingga kegiatan Forkom hanyalah administrasi saja, antara lain :

 

Untuk menolong teman/guru yang membutuhkan,  kita tidak bisa mengandalkan uang kas yang tersisa sedikit itu. Sehingga kita harus mencarinya, dengan cara menelpon teman-teman yang mau menyumbang. (Hal ini pernah terjadi: misal Ibu guru Daryati, teman kita Nico, Grace).

Tidak jarang dana yang didapat tidak sesuai dengan yang diharapkan, karena tergantung ‘sikon’ si pemberi sumbangan.

Tetapi apakah teman-teman yang bersimpati tersebut akan mau jika ditelpon berulang kali untuk kasus-2 yang hampir sama? Agak susah kayaknya, mereka akan merasa terganggu, bosan, dsb. Sehingga lama-2 akan jenuh juga bagi yang meminta maupun yang diminta.

Untuk itu perlu ‘sejumlah dana’ di kas untuk keperluan-2 seperti itu. Pertanyaannya: Berapa? Ini jawaban yang sulit, mengingat kita belum tahu berapa banyak kasus yang akan kita hadapi, ringan/beratnya kasus-2 yang akan datang.

Pernah ada ide dari Ricky, agar kita semua menyumbang minimal sebesar yang pernah kita sumbangkan untuk reuni 2 tahun yang lalu. Hasilnya untuk mengisi kas, sehingga jika ada teman-2 kita yang membutuhkan, kita tidak perlu ‘menodong’ lagi.

Tetapi ide tersebut ada yg menyetujui, ada yang tidak. Untuk itu, kita sederhanakan saja, terserah teman-2 mau menyumbang berapa, bagi yang setuju, segeralah menyumbang dengan transfer ke teman kita, Bendahara Forkom : Soemiaseh, AC BCA : 2581 79 3229.

 Untuk laporan pertanggungjawaban penggunakan dana tersebut, akan diupload di website kita, www.forkomsmakstlouis81.com

 

Grace

Category: Aktifitas (BLOG), Headline di Home, Homepage slideshow  |  Tags:

FAMILY GATHERING FORKOM SMAK ST LOUIS 81 Tgl.9-10 November 2013, Ciawi Bogor

Posted by on Friday, November 22, 2013 · Leave a Comment  

Sampai-di-Jakarta2-

Tak terasa minggu berganti minggu dst namun semua kenangan manis (kekompakan, keceriaan, kekonyolan) acara ini masih lekat teringat dibenak teman-teman bahkan guru-gurunya benar-benar luarr biasa. Read More

Category: Aktifitas (BLOG), Headline di Home, Homepage slideshow  |  Tags:

Family Gathering dan Arisan ST. Louis 81, 9 – 10 Nopember 2013

Posted by on Saturday, October 19, 2013 · Leave a Comment  

 

Slide

Setelah sukses mengadakan Family Gathering jilid Pertama di Tretes, 6 – 7 July 2013 yang lalu, Forkom St. Louis 81 mengajak para alumni mengikuti acara Family Gathering II yang akan diadakan awal bulan November 2013. berikut ini adalah rancangan acara yang akan di adakan di Villa Bukit Pinus, Caringin – BOGOR :

RUNDOWN ACARA

 

Sabtu, 9 Nopember 2013

 

09.00 - : Bus berangkat dari bandara Soekarno Hatta terminal 3
11.30 – 13.30 : Check in dan makan siang di Villa Bukit Pinus
13.30 – 15.30 : Acara bebas diisi dengan permainan permainan
15.30 – 16.30 : Coffee break
16.30 – 17.30 : Istirahat + mandi dsb
17.30 - : KUMPUL  DI  AULA
17.30 – 18.00 : Sambutan dan perkenalan peserta
18.00 – 19.30 : Acara seminar di koordinir oleh teman-teman dari P2,dengan tema : “ KETIKA AWAN  SANGAT  HITAM “ oleh : Steve Sudjatmiko
19.30 – 20.30 : Makan malam
20.30 – 21.00 : Arisan
21.00 – Selesai : Acara permainan, hiburan dan karaoke

 

 

Minggu, 10 Nopember 2013

 

07.00 – 08.00 : Senam pagi bersama instruktur senam
08.00 – 10.00 : Makan pagi + ngobrol
10.00 -  11.00 : Mandi + beres-beres barang
11.00 -  12.00 : Foto bersama dengan kostum yang sudah ditentukan
12.00 – 13.00 : Makan siang
13.15 - : Good Bye Villa Bukit Pinus,
ACARA SELESAI sampai bertemu di Family Gathering selanjutnya.

 

 

 

Category: Aktifitas (BLOG), Headline di Home, Homepage slideshow  |  Tags:

GRACE, Reunion behind the scene – the untold story

Posted by on Tuesday, July 23, 2013 · Leave a Comment  

Grace, …anda serius mau mengadakan reuni untuk skala 400 an orang, yang sudah terpencar tiga puluh tahunan,  dan tidak punya data dimana saja mereka semua sekarang?

Jangankan mau menyatukan mereka yang jauh di angan angan,…calon panitianya  yang kini  duduk di satu meja sekarang saja itu, tidak saling mengenal.  Bahkan dalam hati saya malah bertanya, saya juga tidak mengenali Grace sebagai icon lama, koq tiba tiba figur ini  berani menempatkan dirinya sebagai person yang mau menggagas reuni ?. Saya juga tidak yakin bahwa mereka semua  yang datang malam itu adalah mereka yang memiliki kelebihan waktu, energi atau memang punya niat mau nyumbang tenaga sukarela untuk kerja bakti,…. terutama saya.

Apa dan berapa modal yang anda miliki, atau tepatnya punya jimat apa anda, Grace ? koq anda yakin bisa  menggerakkan boss boss dan taipan di sebelah saya ini untuk mau di beri perintah perintah.  Belum lagi suasana  meeting nya saja masih kaku. Masing masing masih saling lirik dan bicara seperlunya sambil membaca situasi. Wah tidak ada ujungnya ini. Sayakemudian berinisiatif  untuk banyak bicara, tujuannya agar ada kejelasan ini rapat mau sampai jam berapa. Supaya jelas dan  bisa cepat quit.

Rasanya belum pernah saya berada dalam situasi rapat yang seperti ini. Suasana nya bak sekumpulan orang  dari antah berantah yang baru saja saling mengenal,  terus mau mencari kata sepakat untuk bekerjasama membuat hajatan besar. Doesn’t make any sense. Yang saya kenal dan saya ingat hanya Soemiaseh, karena kita pernah satu kelas sebelum penjurusan. Tapi dulu pun rasanya saya belum pernah ber komunikasi secara face to face. Masa pra-penjurusan terlalu singkat waktunya untuk mengeliminir ego dan ja-im.  Apalagi  saya tidak yakin apa Soemiaseh mengenali saya.

Saya berupaya untuk menjajal Grace, yang bagi saya saat itu berprofil terlalu sederhana agar tidak saya gunakan kata “meyakinkan”,  untuk mendapat gambaran apa ia mampu menundukkan ego ego dari alumni yang haus eksistensi ini. Tujuannya supaya rapat cepat selesai  dan saya punya alasan kepada teman yang minta saya hadir, untuk report. Saya sudah hadir and See you in next meeting. Caranya? Saya berargumen dan berusaha  untuk menggiring opini agar rapat mencari profil profil yang tepat untuk duduk jadi panitia. Profilyang tepat itu maksud saya adalah  tokoh tokoh jadul kita…. kalau bisa tokoh yang ngetop di kelas pagi dan siang.  Tentang siapa siapa tokoh yang dulunya ngetop dan masih mudah di ingat, ya gampang kriterianya. Bisa yang terkenal karena pintar, jago olah raga, ganteng, cantik, kaya, atau sangat miskin. Bisajuga mantan pengurus pengurus Osis, mantan ketua kelas atau sekalian tokoh terkenal karena badung nya. Nah, cari dan hubungi mereka. mereka lah yang pantas di gadang gadang jadi panitia. Pasti diterima oleh semua kelas. Bukan para alien ini.

Setelah itu,  Grace harus bikin langkah strategis dengan ber kolaborasi lah dengan mantan ketua Osis, minta restu dulu dari mereka agar jangan sampai dispute dan tidak diakui legitimasi ke panitiannya. Dengan demikian dapat dihindari adanya reuni tandingan,  atau bahkan kebanyakan reuni yang semuanya mengaku resmi…….itulah pokok pokok pemikiran saya yang saya desakkan kepada Grace di saat pertama  saya baru mengenalnya. Bukan tigapuluh tahun sebelumnya. Mengapa saya menyebut dengan kata mengenal, karena pastilah kita selama SMA pernah bersua, tetapi tidak pernah ada peluang untuk mendalami profil karakternya.

Boro boro menciut nyalinya, eh Grace malah maju dan dengan santai menetapkan susunan panitia malam itu plus membuat saya melongo karena menunjuk saya mengkoordinir penggalian dana.Entah karena ia itu lugu atau atau sangat cerdik atau nekad, koq paparan saya nggak ngaruh sama sekali, dan malah memberi umpan balik, lu yang cari duit.  Saya kemudian malah berasumsi, dibalik ini semua, Ia pastilah profil yang sangat ambisius!. Saat itu Ia pasti belum menunjukkan seluruh gunung es nya. Oke lah  kita ikuti permainannya.

Saya menulis artikel ini, karena pada akhirnya saya sadar bahwa asumsi saya diatas ternyata salah total…..Sebaliknya, saya tidak habis pikir, koq mau maunya Grace mengalahkan dan menanggalkan semua egonya demi terselenggaranya reuni. Memangnya ia dapat kepuasan apa?……

Saya mengajukan prasyarat yang berisikan dua hal pokok yang sangat tidak meng enakkan untuk seseorang yang memangku predikat dan tanggung jawab sebagai ketua.Hal mana prasyarat tersebut saya percaya akan meminimalisasi  segala resiko yang telah saya paparkan diatas. Dan juga saya percaya bahwa prasyarat itu akan menjadi dasar yang struktural  bagi  para hadirin yang mengaku sebagai alumni itu,untuk bisa dan mau bekerja. Prasyarat itu meliputi,  pertama, Grace tidak berada dipuncak susunan organisasi kepanitiaan, melainkan berada dibawah sebuah dewan yang dibentuk yang ber anggotakan  mantan mantan ketua kelas. Kedua, Grace tidak mempunyai akses langsung dalam urusan pengumpulan dan pencairan  dana, artinya tidak ada nama Grace dantermasuk saya di Rekening Bank. Semuanya harus terlihat sebagai kerja team. Pokoknya tidak ada kesempatan untuk penonjolan yang sifatnya pribadi. Tapi kalau ada problem, kekacauan atau kegagalan, anda tetap bertanggung jawab!…., Mau tahu reaksinya? ………no question, no heavy debate, no wasting time for arguing, no resistance at all,…. And she just took it, so we could easily moved for the next chapter !!

Dalam perjalanannya,….. menyangkut divisi saya dalam penggalian dana, maka divisi  yang paling sensitif  ini saya mintakan proteksi dari sang ketua untuk memuluskan strategi team saya. Saya mengusulkan agar sumbangan dalam pengumpulan dana,  dikompetisi antar kelas, dan bukan merupakan performa pribadi, sertaperolehannya bersifat terbuka. Artinya, ketua kelas bertanggung jawab ke anggotanya untuk menggali dana reuni, dan performa kelas yang lemot dalam laga  raising fund nya, akan ter expose. Ujungnya bisa ditebak, efek langsung yang di hadapi pastilah menerpa Grace secara pribadi.  Sebagai anggota dari kelasnya, tentu ia dipertanyakan. Mengapa membuat sistem pengumpulan dana yang bertekstur vulgar seperti itu? Memangnya Grace yang memimpin penggalian dana untuk kelasnya, tentu tidak. Ia bukan mantan ketua kelas. Tetapi Grace tidak goyah. Tidak pernah secara pribadi,  ia ingin menarik kembali previledge yang telah diberikan kepada team saya itu. Tetapi saya dapat merasakan dilema dan gundahnya. This is an unfold story to make us more understand about our fellow who ever feel  the burden. Grace merasa terjepit antara team nya dan teman teman sekelasnya. Dilain pihak, saya tidak pernah berniat mengendurkan sisi saya,  yang kalau saya mau,  dapat mengurangi beban himpitannya.  Saya malah lebih awas kalau kalau ia berniat bergeming dari pijakannya,manakala issue tentang penggoyahan methode koleksi itu muncul dan dipertanyakan kembali dalam diskusi. Bagaimana tidak, masing masing kelas cukup tertekan dengan exposure performa kelas kelas lainnya dikala kelas lain  telah menyalip cukup jauh. Kalau bisa rule nya saja yang di rubah.  Not a chance. Bahkan karena saking dalam dan silent nya Graceuntuk memendam bara ini, ada pihak yang terang terangan mempertanyakan apa perananGrace sesungguhnya.

Puncaknya,  Grace lompat pagar (dalam arti sebenarnya) menyeberangi portal penghalang yang memisahkan perumahan kami berdua. Ia mengalah untuk ber rendah hati datang kerumah saya. Rumah kami memang dekat tapi tidak untuk prinsip. Grace datang tidak untuk tawar menawar. Grace hanya ingin saya lebih membumi. Lebih manusiawi untuk ikut merasakan betapa reuni ini dan khususnya metode saya ini, telah membuat dirinya menjadi lonely di komunitas kelasnya. Kelak saya mendapat banyak penjelasan yang melegakan tentang jernihnya kembali situasi antara pribadi dan komunitas kelasnya itu, tetapi tulisan ini tetap merupakan sebuah catatan bagi seorang pribadi Grace yang saat awal pembentukan panitia,dan dari keterbatasan pengamatan visual saya,  minim sekali mendapat ucapan selamat sebagai ketua dari sejawat kelasnya. Atau sebaliknya Grace pun tidak banyak menarik rekan kelasnya dalam gerbong kepanitiaan. Setiap kelas mempunyai ke unikannya sendiri. Tidak seperti reaksi P1 kepada Temi Hendri waktu terpilih sebagai ketua Forkom.Mungkin saking banyaknya di elu elukan dalam bbm grup, Temi wajib men traktir teman teman sekelasnya. Saya mengharap web kita ini sudah dapat kembali berfungsi normal sehingga  dapat  memuat komen yang merespon keterbatasan pemahaman saya tadi dikala saya miss dalam menginterpretasi.

Syukurlah dikala hari reuni telah menjelang, semua friksi friksi telah dimuluskan. Pengawalan terhadap Konsep yang tegar untuk meminimalkan penonjolan peranan pribadi, pada akhirnya dapat mengikis tuntas segala strataeksistensi dan manifestasi pencapaian prestasi individu. Semuanya rela untuk kembali menjadi pribadi sederhana sebagai anak SMA.

Kemudian Kami semua dengan ikhlas bertanya,  Grace, apa sudah dipersiapkan dengan seksama konsep pidato nya?, tidak ada seorang pun dari kami mempertanyakan apa yang akan kau katakan di podium. Kami telah mengambil terlalu banyak bagian dari hak mu. Kini giliranmu untuk mengambilnya kembali. Kami terlalu bergembira untuk sempat menyimak pidato Grace saat itu, tetapi yang saya ingat, di penghujung speech nya, ia memanggil seluruh crew nya untuk naik ke atas panggung dan diperkenalkan kepada audience……..

Saya menulis artikel ini dikala situasi hati saya tidak netral. Sangat berbalut emosi. Tidaklah merupakan kebiasaan saya menulis di web yang sakral ini,bisa langsung finish. Saya tidak akan melupakan momen yang saya namai “A wonderful evening with Grace’s family” ketika saya berbincang lepas saat mengunjungi Grace yang sedang berbaring. Saya senantiasa menjaga  behave saya dikala berhadapan dengan dirinya. Saya sengaja datang tidak dengan rombongan agar atmosfir pijakan lama kami tetap terjaga. Saya jadi punya kesempatan untuk datang “melaporkan” perkembangan Forkom yang telah melalui dua kali pembukaan arisan dan satu kali Family Gathering. Sesuatu yang ia mulai dan sesuatu yang seharusnyaia nikmati. Saya secara resmi mengundangnya untuk ikut dalam program Family gathering next November di Jakarta.

Dalam beberapa kali berbicara dalam forum Forkom , Grace lebih senang  menyebut dirinya sebagai Penggagas atau Inisiator reuni, tanpa menekankan leadershipnya. Tetapi tidak bagi saya pribadi . Grace adalah Chief Executive saya……Officer on Deck,…….Salute my Captain…….you are on sailing now

 

 

Category: Headline di Home, Homepage slideshow  |  Tags:

FORKOM GRAND DESIGN

Posted by on Tuesday, May 28, 2013 · Leave a Comment  

WHAT IS IN JAMOO?

Bukan pertama kali untuk saya, tapi daya tariknya memang luar biasa untuk sekedar melewatkan undangan makan malam.  Herman Prawiromaruto (ketua kelas P4) sempat mengajukan pertanyaan yang jitu ketika saya diberi kesempatan untuk berbicara tentang Forkom di acara teman teman P4. Saat itu sedang dalam suasana lunch di acara ultah teman cantik kita, dokter Lani.  Mengapa Forkom kalau mengadakan rapat yang mengundang mantan ketua ketua kelas harus di lakukan di restaurant sekelas Jamoo ? Read More

Category: Aktifitas (BLOG), Headline di Home, Homepage slideshow  |  Tags:

ARISAN FORKOM St. Louis 81

Posted by on Monday, May 27, 2013 · Leave a Comment  

Kepada teman‐teman
Saint Louis I Angkatan 1981
Surabaya

Untuk mengaktifkan “FORKOM” ( Forum Komunikasi ) yg telah dibentuk 1 tahun yg lalu, maka ketua FORKOM 81 : Sdr.Temi Hendri (P1) yang berdomisili di Jakarta, pada rapat tanggal 4 Mei 2013 Read More

Category: Aktifitas (BLOG), Headline di Home, Homepage slideshow  |  Tags:

Belajar Dari Witarmin

Posted by on Monday, January 28, 2013 · Leave a Comment  

Halaman depan sebagai tempat parkir di Delta Plaza (sekarang Plaza Surabaya) masih sepi. Dengan mudah saya dapat memilih titik tempat parkir yang favorit. Udara rada rada mendung. Sebenarnya saat seperti  itu lebih enak kalau dibuat nongkrong dirumah sambil sarapan yang enak. Tetapi sepertinya  ada energi  besar yang  bisa mengalahkan segala  godaan  itu. Dorongan yang timbul dari ambisi seorang anak muda.  Ya, karena saat itu  tahun 1992 an  sekitar jam 8.30 pagi. Saya datang pagi pagi ke Delta Plaza karena memiliki kantor disana. Pikiran saya telah penuh dengan janji,  rencana,  dan  perintah yang harus  segera  saya hamburkan sesaat setelah saya buka pintu kantor.  Mobil saya parkir dekat dengan outlet Dunkin Dunnut. Saya sudah terbiasa langsung otomatis berjalan ke kiri meyusuri samping oulet  roti gelang itu. Pintu utama pasti belum buka,  memang  kalangan manajemen toko harus lewat pintu samping yang biasa digunakan cleaning service. Cuma pagi itu ada yang tidak biasa. Perasaan  saya yang biasanya bebal dan tidak peka terhadap  alam sekitar. tiba tiba kali ini mendapat  cobaan.

Kasgartap nganyari Dental Un it

Pikiran yang lagi fokus  di tengah bisnis yang sedang  booming,  tiba tiba dapat di interupsi.  Saya mendengar suara tangisan yang keras!…..saya menoleh, saya lihat seorang anak dimana dari kotak kayu yang ada disampingnya, saya tahu ia seorang tukang semir sepatu.  Spontan saya Tanya: “Kenapa? “……”Uang saya dirampas sama anak anak yang lebih besar!” jawabnya didalam tangis yang bercampur  kesal, marah dan hopeless….”Berapa?” Tanya saya lagi dengan cepat pula. “Tiga puluh ribu ” jawabnya  tanpa menoleh ke saya.  Mungkin di benaknya,  saya adalah orang yang beruntung dapat suguhan gratis menikmati drama di pagi hari itu.  Tanpa membuang waktu saya ambil uang di dompet, saya letakkan  selembar sepuluh ribuan di atas kotak semirnya .  Dia tertegun sejenak  untuk melihat ke saya. Ia  berhenti menangis dan tidak terlihat lagi sisa amarahnya.  Sayapun bergegas berlalu tanpa menoleh lagi sambil  harus me re memori lagi apa apa yang harus saya lakukan di kantor , that’s it, that’s all……..delta plaza  masih tetap sepi.

Nah ketika menjelang sore  saya baru sadar dan menyesal. Sampai hari inipun saya masih menyesal  sehingga saya tulis kisah ini. Mengapa saya yang lagi banyak rejeki  di usia  produktif,  penuh optimisme serta selalu melangkah tegap karena ber bekal  kiat kiat bisnis yang mantap, bisa begitu acuh dan egois akan situasi orang lain yang tidak beruntung. Baru setelahnya  terpikir oleh saya,… berapa lama dan berapa pelanggan yang di garap anak itu guna mengumpulkan tiga puluh ribu rupiah? Jaman itu dengan  lima ratus rupiah sudah cukup untuk membuat sepatu kita mengkilat.  Pasti hancur hatinya ketika jerih payahnya di rampas begitu saja oleh begundal  begundal  jalanan.  Padahal Ia bukan berandal. Ia bukan pula bagian dari orang orang  pengecut yang menindas orang yang lebih lemah, rajin dan tekun tentunya. Justru Ia adalah seorang  pejuang bisnis yang tangguh.  Malahan saya yang risau apa saya bisa setangguh anak itu  apabila dalam kondisi yang kurang beruntung.  Tiga puluh ribu rupiah jaman itu pun bukan masalah besar untuk saya. Not a big deal. Di dompet pun masih banyak lembaran uang yang kebetulan saya bawa.  Kenapa tidak saya berikan saja total tiga puluh ribu rupiah.

Saya berpikir keras untuk berusaha mengerti,   teori apa yang tertanam di  benak saya, yang ternyata menghalangi saya ketika saya sebenarnya dengan murah mampu  mencegah se seorang menjadi embrio preman baru. Kenapa saya tidak rela kalau kasta tukang semir dapat Full Recovery Fund?  Kenapa saya memutuskan Ia hanya layak di tolong sepertiga dari total loss nya?  Itu merupakan sebuah pengambilan keputusan yang  sifatnya reflex dan spontan.  Jadi dikontrol oleh  alam bawah sadar ya?. Demi memenuhi  rasa penasaran saya,  saya coba lagi untuk berkilah dengan teori  teori lain, seperti :  Bail Out itu hanya akan menghasilkan kemanjaan saja , atau bahkan berlawanan dengan prinsip Free Fight Capitalism, dan tentunya masih banyak stok bla bla bla yang lain untuk pembenaran saya. Tetapi saya tetap merasa masih  ada kebohongan disana. Butuh waktu lama untuk menanti, bahkan untuk  bisa jujur dengan diri saya sendiri. Jawabnya  adalah :  Itu  “asli” saya. Original sifat saya. Keputusan saya tentu akan berbeda apabila ada orang lain yang menjadi  saksi akan “Amal” saya.  Ternyata saya cenderung mau menolong orang lain kalau ada yang melihat. Atau mau menolong  hanya kepada orang yang saya kenal sehingga mendapat  jaminan  atau investasi,  bahwa suatu hari kelak, saya dapat sebaliknya minta tolong dikala membutuhkan.  Atau setidaknya bantuan saya tidak di sia siakan dengan  berusaha  me monitor where all the penny goes.  Di momen singkat itu,  saya jadi lupa akan bekal religi dari orang tua, guru dan handai taulan, bahwasannya kita selalu ada yang mengawasi dan menguji ke tulusan kita. OMG saya TIDAK  LULUS !!.

Setelah itu saya berjanji pada diri sendiri untuk  selalu waspada dan peka akan adanya ujian yang bisa datang semena mena di tempat dan waktu yang salah. Tetapi  setelah berjalan nya sang waktu, tidak kunjung datang pula si Polan yang ber iba iba. Bahkan  saya cenderung  lupa lagi bahwa saya pernah tidak lulus. Sebenarnya banyak cara brutal yang dapat saya tempuh untuk ber amal guna  menebus kebodohan terdahulu. Tetapi  coba simak dulu kesempatan  yang telah saya lewatkan. Betapa  dengan tambahan 20 ribu rupiah saja, dapat membuat seseorang akan merasakan miracle, bersyukur dan lebih percaya  tentang keberadaan  Sang Pencipta.  Tapi apa semudah itu menemukan momentum : Kapan dan dimana rumah Siswi SMP yang sehari sebelum ia bunuh diri karena malu ibunya tidak punya uang dua puluh lima ribu rupiah untuk wisata sekolah ( Jawa Pos sekian tahun lalu) ……atau   Saya merasa di cibir ketika melihat beberapa hari lalu di berita Metro TV seorang ibu yang meraung menangis karena ditolak mendapat nasi bungkus di penampungan banjir Penjaringan  Sari. Ia berada di luar antrian  karena dianggap bukan penduduk disana. “ Saya tidak punya uang mbak, saya punya anak” katanya ke  Reporter TV. …kesempatan itu tidak ada disamping saya. Betapa Sebungkus nasi menjadi sesuatu yang sangat berharga dikala kita lupa berapa uang yang telah kita sia sia kan hanya untuk barang barang konsumtif karena perubahan trend, misalnya.

.  Handoyo Wibowo teman saya di P1 pernah juga mengungkapkan  bahwa ia sebenarnya punya juga kesempatan menolong  dengan momen yang tepat. Tetapi Ia juga melewatkannya. Disuatu siang di sebuah Super market, seorang ibu yang berdiri di belakangnya ketika antri di kasir, mengalami masalah. Uang nya tidak cukup untuk membayar susu balita.  Handoyo mengetahui hal itu, tetapi Ia  hanya berlalu. Handoyo mengungkapakan kisah ini tentu karena Ia merasa  kecolongan  (betul Han?) Kini saya jadi mengerti akan apa yang di pikirkan Oscar Schindler ketika  menghitung berapa nyawa yang masih bisa diselamatkan dari Holocaust  dengan menafsir  nilai sisa sisa barang yang masih melekat ditubuhnya  (Schindler ‘s List)…..

So what is  the point? ……Ber amal pun nggak gampang khan?! Ternyata menemukan orang yang benar benar membutuhkan  dalam  momen yang tepat serta  dibantu dengan amunisi  yang tepat pula , bukan seperti mebalik telapak tangan. Tidak sekedar menebar uang berarti sumbangsih.  Sampai disini masing masing  teman pasti punya pemahaman  yang  unik  dari pengalaman 30 tahun berkarir di masyarakat. Tetapi  ada yang hendaknya perlu kita sepakati bersama. Kalau kita menemukan orang  disekitar kita atau  dekat dengan kita dalam artian setidak tidaknya kita mengenal atau di referensi dari komunitas kita,  bahwa seseorang diantara kita “crying for help”,  maka serentak lah kita harusnya bersyukur……. Masa ujian telah tiba….. Soal2nya tidak sulit dan Kali ini aku ingin lul;us.  Hal itu telah di tunjukkan oleh teman teman alumni 81 dengan amat sangat manis dalam memberi support moril dan materiil kepada Ketua Reuni Akbar kita Karin Gracia – Grace. Setiap kelas memberi  konstribusi yang sangat berarti, yang di galang dalam waktu singkat dan di koordinasi secara sederhana dan spontan. Kita percaya banyak yang tidak mengenal secara pribadi akan Grace, tetapi  memberi konstribusi yng amat tulus. Hermine Chan adalah teman kita di Singapura yang menemani  Grace dalam menjalankan sesi perawatannya. Mereka berdua sebenarnya adalah teman “baru”. Tetapi Bond of Fiendship lah yang menjadikan mereka kawan lama. Dari sini terlihat bahwa  empati telah timbul. Itu adalah modal yang kuat untuk Ikatan kita dalam melangkah ke depan.

Witarmin (P1) adalah orang yang yang memberi pelajaran berharga pada saya tentang bagaimana prinsip menolong teman. Salah satu teman kami yang telah almarhum, yang semasa hidup  ber profesi sebagai pemborong konstruksi  besi, pernah “di tolong”nya. Kalau pertolongan itu berbentuk memberi  pekerjaan dan di beri imbalan sesuai hukum pasar yang berlaku, tentunya tidak ada nilai tambahnya untuk tulisan ini. Akan tetapi , histori  teman kami yang ditolong ini tidak begitu mulus mulus amat . Beberapa kasus  juga terjadi  dengan teman teman alumni. Tetapi dalam mencari solusi,  justru sang pemborong  mendapat penyelesaian yang amat berbeda dari dokter gigi ini. Teman teman lain yang juga termasuk saya, yang pernah sewot  dan kecewa  berat, pernah  diajak berkonsultasi untuk membawa saja kasus beginian ke jalur hukum. Tetapi  tidak dengan Witarmin. Boro boro minta uang kembali, Ia malah memberi bantuan Likuiditas !! …….kenapa Min?   Ia dalam keadaan susah, katanya. Bagaimana pun Ia kawan kita………nah lain khan? Saat ini, bertahun telah berlalu. Segala kekecewaan dengan masalah kontrak kerja telah  pupus pula, juga nilai BLBI nya telah terestrukturisasi dengan rejeki yang senantiasa datang, tapi momen itu tidak pernah kembali. Kawan kita sudah jauh dari deru mesin las. Ia telah beristirahat duluan dari bengisnya dunia ini. Witarmin tidak terlambat untuk mengerti. Ia menyelesaikan soal  ujian yang datang itu dengan baik.  Motonya, “kalau menolong, ya tolong aja” , maksudnya, jangan ada embel embel analisa dulu atrtidutenya , periksa dulu rekam jejak sosial dan finansialnya,  atau bagaimana karakter pribadinya dll. Justru bantulah teman yang justru paling tidak kita suka i ketika ia sedang susah. Itu akan memperkaya jiwa kita. Itu yang saya dapat. Semoga saya bisa tetap belajar.

Category: Headline di Home, Homepage slideshow  |  Tags:

Memaknai Reuni

Posted by on Wednesday, January 16, 2013 · Leave a Comment  

Perayaan Natal bagi alumni SMAK St.Louis 81 di adakan  di Rumah Grace pada tgl 21 Desember 2012, di umumkan melalui broadcast SMS.  Undangan tersebut banyak menimbulkan tanda tanya,  mulai : Mengapa?  Apa yang special dari acara ini? Apa acara ini merupakan idea Grace  sendiri ?   Apa rumah Grace yang dibilangan Perumahan Manyar Jaya cukup untuk menampung  seluruh alumni yang kemungkinan hadir.

Bersama Hermine(1)

Apakah pilihan hari, tempat dan jenis acara merupakan keputusan berdasarkan   pertimbangan yang nalar? Apa perlu rapat rapat formal di restaurant ?  apa perlu urunan nasional lagi ? Jawabannya  NO!   absolutely not ………..semuanya dilakukan  dengan emosional. Panitianya non formal., Rapat rapat koordinasinya dilakukan melalui fasilitas  group BBM, tidak ada rekaman data dalam kertas, dan di program dalam tempo se singkat singkatnya.

 

Mengapa?……Karena kita ingin me maknai Reuni yang lalu se dalam dalamnya.

Perayaan Natal di rumah Grace adalah Thema simbolik dari Nostalgia reuni. Kalau kita tengok kebelakang, butuh waktu setahun kerja keras untuk mewujudkan sebuah reuni yang berdurasi 30 tahun. Butuh energi besar untuk lobby lobby. Butuh perjalanan  safari, koordinasi dan tak lupa pendalaman harga hakekat bagi sebuah ilusi. Sudah saatnyalah  kita mencoba untuk menguji apa makna Reuni itu sesungguhnya. Sejauh apa tertanam dalam individu teman teman arti berkumpulnya kita dahulu.

Grace 1 Grace 2
Grace 3 Grace 8

Read More

Category: Aktifitas (BLOG), Headline di Home, Homepage slideshow  |  Tags:

Reuni St. Louis 81 di Chatter Box – Jakarta 3 Des 2011

Posted by on Saturday, December 17, 2011 · 2 Comments  

Reuni St. Louis 81 di Chatter Box – Jakarta 3 Desember 2011.

Read More

Category: Aktifitas (BLOG), Headline di Home, Homepage slideshow  |  Tags:

THE ‘E’ DAY ……… The Forkom “Election Day”

Posted by on Thursday, December 1, 2011 · 8 Comments  

 


THE “E” Day ..The Forkom “Election Day”

SMS – WEBSITE

Kami mohon maaf kepada rekan rekan Alumni 81 karena dalam 2 minggu terakhir menjelang voting Pemilihan Ketua FORKOM, kami telah menghujani Ponsel anda dengan SMS lebih dari sepuluh kali, yang isinya tentang himbauan yang kurang lebih senada. Berpartisipasi lah di Pemilihan Ketua, dan Sign In di Web kita

Category: Aktifitas (BLOG), Headline di Home, Homepage slideshow, Uncategorized  |  Tags:

UGD ……..shouldn’t be in UGD

Posted by on Monday, November 28, 2011 · 2 Comments  

UGD …. shouldn’t be in UGD
Ini catatan pribadi saya, sebagai rasa terimakasih kepada empat orang anggota team saya, dengan tidak mengecilkan jasa dan peranan yang lain.
Saya mendapat pesan melalui ponsel pagi sehari setelah acara voting ketua alumni hari Minggu tgl 27 nov 2011 selesai. Isinya berupa pertanyaan koq saya sempet rada sentimentil terlihat mewek waktu empat orang teman saya akan ditunjuk sebagai pengurus dalam rangka rapat penyusunan struktur organisasi yang dipimpin Temi Hendri itu. Mungkin, balas saya, mulut saya tercekat, tersedak karena ribuan kata2 yang akan mendobrak keluar secara spontan dalam waktu bersamaan, itu saja , maaf.

Nah tentang ribuan kata kata itu, saya menulisnya disini, karena kalau di reply sms nya, HP nya yang sekarang bisa hang. Kira kira, tulisan dibawah ini yang akan saya sms ke rekan yang pagi pagi sudah meresahkan saya itu,
Saya sungguh sungguh terkesan dengan keikhlasan teman teman panitia Reuni yang mau bekerja gratisan bukan dalam satu sesi satu sampai dua minggu. Tapi dalam jangka hampir satu tahun, rutin dan berkala menampilkan progress mereka. Semangat dan spirit mereka yang bertahan sampai acara diselenggarakan sungguh sangat mengharukan. Reuni bukan tentang penyelenggaraan, (kalau itu sih di serahkan EO saja beres asal di bayar); Melainkan proses emosionalnya.

Read More

Category: Aktifitas (BLOG), Headline di Home, Homepage slideshow  |  Tags:

RUFINUS (P3)…..911 MIGRATION DOC

Posted by on Friday, November 25, 2011 · 3 Comments  

RUFINUS (P3) .. 911 MIGRATION DOC

Teman teman  selain dari IPA 3 apakah Pernah mendengar namanya? Rufinus Dwi Sahari. Kalau belum sebaiknya anda mengenalnya. Jangan hanya membaca artikel ini sambil lalu, kemudian setengah jalan telpon HP anda berdering terus lupa baca terusannya,  sekali lagi jangan. Yang kita maksudkan adalah  catat namanya segera , ini nomor HP nya, 0812 3040 7778, kasih inisial Imigrasi sebagai penanda  klasifikasi  dikolom kontak HP anda .. Ya, ke Imigrasian. Suatu saat anda atau rekan dekat anda bisa sangat terbantu dengan data nomor kontaknya ini.

Setelah anda melakukan prosedur diatas, mari kita bincang bincang lagi. Kali ini lebih santai. Kalau ada interupsi, it’s OK nanti kita lanjutkan. Rufinus adalah sebuah  figur ke tiga yang kita angkat sebagai  profil yang mewakili keunikan dan kekayaan komunitas kita setelah Hermine Chan dan Poo Tjien Sie. Kami telah lama ingin mendapat kesempatan untuk tahu lebih dalam dengan teman yang banyak senyumnya ini . Orangnya luwes. Bagi  anda anda yang sering ke kantor Imigrasi Kelas I jawa Timur di bilangan Waru sejak tahun1987!, maka anda akan tahu bahwa Rufinus tetap ngantor disana selama hari dan jam kerja, konstan selama 23 tahun.  Atau seumur dengan seluruh usia karir kita kalau kita hitung 1986-87 kita lulus perguruan  tinggi. Artinya Rufinus tidak pernah kemana mana. Ia bukan kutu loncat, bukan petualang. Kalau Ia adalah Pegawai Negeri, maka karir seperti itu adalah lumrah. Tetapi kalau Ia adalah Karyawan  Swasta sampai tahun 1990 dan sampai sekarang adalah wiraswasta dengan konstanata seperti  itu,  baru namanya cerita. Ia bukan Petugas Imigrasi, dan juga bukan pemilik kios didalam areal kantor tersebut, melainkan seorang individu yang mandiri. He has No official office there. Tetapi presensasinya atau existensinya, signifikan. Ia seperti  Perusahaan swasta ber plat merah. Orang kerap datang bukan menuju loket loket sesuai skema prosedur yang terpampang besar dilengkapi himbauan himbauan untuk tidak mengurus apapun melalui perantara, tetapi orang akan berjalan lurus langsung menuju ke sosok Rufinus. He is the “Man” there. Apa penilaian anda sampai disini ?

Rufinus tidak akan segan menyebut kata “calo” pada saat kita berbincang bincang tentang karirnya ini. Mengalir saja……easy going. Apakah suatu hal yang urgen atau sesuatu yang khusus  untuk dikemukakan di forum kita soal “percaloan”  dari rekan alumni 81 kita? …..Kami tidak berada diposisi untuk membidik dari sudut itu. Kami selalu menekankan forum ini untuk menemukan sudut pandang  yang  lain terhadap seseorang  melalui jendela “kepribadian”. Kita tidak sedang menulis tentang Biografi, tidak juga prestasi (achievement), dan tidak pula menghakimi atau menulis tentang kehebatan atau  sebaliknya  aib dan terpuruknya seorang teman. Melainkan lebih kepada cara pandang teman kita  terhadap “kehidupan” setelah  30 tahun meninggalkan bangku SMA. Sebagai seorang Suami dan seorang Bapak dalam ber ikthiar memimpin kelangsungan berkeluarga. Dijamin kita akan mendapat umpan yang menarik dan berdaya  guna  sebagai bahan  belajar yang kaya  dan luas dari banyak perspektif.

Kembali ke Rufinus sendiri dalam memandang profesinya;  Ia tidak ingin mewariskan pekerjaan ini kepada ketiga anak anaknya yang dua diantaranya adalah sarjana. (sarjana komunikasi dan sarjana multimedia). bahkan anak bungsunya adalah mahasiswa Desain Komunikasi Visual. Artinya Ia sadar sekali untuk memutus link nya ini. Kalau tidak, tentunya anaknya akan di arahkan ke sekolah Administrasi Negara seperti STAN misalnya.  Atau Sebagai  Pegawai negeri. Pandangan Ini benar benar di konfirmasi   oleh Rufinus. Ia mengatakan sebagai sarjana pertanian saja , Ia tidak pernah melamar ke Instansi pemerintah. Ia tidak mau kata “dapat uang pensiun” sebagai motivasi karirnya.

Lalu bagaimana urutan ceritanya sampai berkantor di jalan Jend.S.Parman 58 A ini? cuplikannya seperti ini.  Setelah lulus dari Fakultas pertanian, desakan ekonomi karena telah menikah dengan Margaretha dan memilki putri, karir yang telah dibangun selama kuliah sambil bekerja di “Sinar” Supermarket sebagai Purchaser, harus ditanggalkan. Ia melamar dan bekerja di Biro Perjalanan “Orient” Karena dirasa lebih bermasa depan di kala itu. Rufinus ditempatkan di bagian “luar” dikantornya. Sebagai Biro Perjalalanan, “Orient”  tentu banyak berhubungan dengan Instansi Imigrasi. Bisa jasa pengurusan Visa, Paspor dan hal hal ke imigrasian bagi warga asing. Rufinus lah staff yang ditunjuk untuk  in charge dan representative bagi kantornya untuk memiliki otoritas kontak dengan Petugas Imigrasi . Bukan rahasia umum, tatkala Ia adalah titik simpul potensial  yang berhubungan langsung dengan personil Kantor Pemerintah tersebut, maka  Rufinus dapat memiliki klien  privat yang  tidak melulu datang dari internal perusahaan sendiri. Hasil sampingan tersebut  tentu lumayan dibandingkan dengan karir sebagai manajer di supermarket. Rufinus punya perasaan yang etikal pada akhirnya,  ketika proporsi job yang didapat secara pribadi bahkan lebih besar dari perusahaan tempat Ia bernaung. Ia memutuskan untuk resign di tahun 1990 dan mendirikan kerajaannya sendiri disana. Kalau perlu Orient bisa ber partner dan memanfaatkan  jasanya. Sejak saat itu ia mantap sebagai Wiraswatawan  Perantara pengurusan hal hal yang bersifat imigratoir di Waru……. Dan katakanlah keputusannya adalah tepat.  Hasilnya telah kelihatan. Anak anaknya bisa di sarjanakan. Akan tetapi  Ia berprinsip karirnya ini bukan sebuah Panutan. Rufinus mengatakan bahwa ia tidak canggung untuk mengatakan kepada anaknya bahwa  “Ayahmu hanya seorang maklaar nak”. ……….Rufinus  tidak dapat membuat dirinya berbicara 100% mantap  kalau disandingkan dengan  tekanan suara seorang  teman yang percaya diri ketika melafalkan profesi nya sebagai seorang Marketing Manajer (misalnya)  ketika ditanya karirnya.  Ada semacam kegetiran  dalam pandangan matanya ketika sampai titik ini. Tapi anda jangan terkecoh. Kalau kita menganggap bahwa motivasi Rufinus adalah Uang semata ketika ia memutuskan tetap bertahan di jalur ini  selama 23 tahun, …………salah besar!!…….jawabannya, justru “Kepuasan Batin”. …….Wah berbahaya ini. Koq malah puas batin? Memangnya dari segi apa? Puas kalau melihat orang kalau di peras “oknum”? Puas kalau kita melihat Negara ini tidak bisa lepas dari birokrasi korup yang menyuburkan percaloan?  Puas melihat biar dipakai sistem secanggih apapun  untuk mem blok percaloan, Rufinus dan kawan kawan dibalik loket tetap menemukan jalan “tembus”?…….salah besar lagi.

Coba kita telaah bersama sama saja ya…… Kami pun berusaha mendekat dengan teman kita ini tidak secara hipokrit. Tulisan ini telah lama ingin kami angkat karena suatu pengalaman. Pengalaman  “ditolong” secara signifikan oleh teman yang justru tidak 100% bangga  dengan statusnya.  Ketika anak kami yang SMA belum pernah menginjak kota Shanghai ketika harus bepergian dengan kerabatnya yang ternyata memiliki kasus imigratoir (karena sekian tahun lalu pernah dideportasi oleh negeri Paman Sam sebagai penduduk illegal)  terganjal di imigrasi dan ditolak untuk bisa keluar negeri. Ada kode merah atas namanya.  Anak kami ternyata tetap terbang dengan PD ke kota metropolitan itu sendirian. Jadilah kami sebagai orang tua kalang kabut. Ibunya kuatir walaupun membawa bekal cukup, tapi ini bukan Singapore…..Itu lebih seram dari Jakarta. Ibunya ingin segera menyusul, tapi ini bukan Negara ASEAN yang bebas visa. Ibunya ingin di hari bersangkutan mendapat visa dari konsul RRC. Memangnya bisa diatur hari itu beres seperti di negeri ajaib ini. Beberapa biro perjalanan sudah angkat tangan. Ticket bisa, Visa no-way!……..Untung kami punya nomor HP nya Rufinus. Kami tanyakan kemungkinannya kepada  Kawan Lama ini, jawabannya datar saja, saya usahakan, tapi itu memang pekerjaan saya…… Info tersebut  kami teruskan kepada Biro Perjalanan tempat membeli ticket, langsung  di respon dengan tegas  “ non-sense”. Tidak mungkin bisa. Tetapi manakala kami menyebut nama “keramat” rekan P3 ini, pihak Agen  terdiam….. Koq bisa anda kenal dia? Tukasnya. Kalau yang menghandel Rufinus,  kita give up. He is the one who can do it. Pastikan  dia saja yang ngurus kata pihak Agen yang berkantor besar dan mentereng  tersebut………………singkat kata, Ibunya bisa melenggang kangkung ke esokan paginya ke kota tempat expo dunia itu dengan bawa tambahan  bekal untuk oleh oleh. ………….Apa yang disimpulkan  oleh  benak kami saat itu adalah  “OMG, This man so helpful.  We do need him in a certain circumstances. He is like 911 in migration case”…….kami tidak bisa membayangkan bagaimana dengan nasib anak kami kalau tidak menyimpan nomor HP mujarab itu?

Kepuasan bathin Rufinus terletak pada sisi “Kemanusiaan”!….. Ia bisa menolong sesama dikala situasi “Tanggap Darurat Dokumen Migrasi”. Dikala situasi telah dirasa “Imposible” atau buntu, Ia adalah tumpuan harapan. Reputasinya hebat! Bukan sekedar perantara biasa yang memang diciptakan oleh keadaan  agar bisa menguntungkan pihak tertentu. Tetapi memang Lobbynya punya kharisma. Kinerja  Instansi yang bekerja seperti mesin yang konstan dan stasioner, dapat dirubah memiliki akselerasi tambahan dan lebih berpelumas.   Ia merasa puas ketika bisa menolong Pasien yang tergeletak dirumah sakit yang mengalami hambatan dokumen untuk ke luar negeri padahal ke LN adalah rujukan darurat dokter.  Ia bisa bergegas mendatangkan Petugas Imigrasi ke RS untuk memfoto, mengambil sidik jari dan data lain, sehingga segala persoalan ke imigrasian Pasien tuntas dengan singkat dan nyawa tertolong.  Sebaliknya perasaan nya hampa ketika segala dokumen Pasien yang kritis telah lengkap, tetapi keluarga sang Pasien memberitahu untuk langsung  saja datang ke Adijasa di jalan Demak kalau ingin mengambil Fee. …..Klien nya telah terbang dengan pesawat jenis lain kenegeri yang tidak membutuhkan  visa dan passport …………Lalu Ia merenung, Uang untuk jasa apa sebenarnya yang aku terima dalam kasus ini?

Rufinus mengatakan Ia suatu saat akan menyumbangkan pengetahuannya tentang liku liku ke imigrasian di Web kita. Tujuannya amat sesuai dengan Visi dan Misi komunitas kita….. Keberpihakan…… Rufinus tahu bahwa banyak kasus yang yang merugikan seseorang karena mereka tidak tahu dan tidak di beri tahu, bahkan dimanfaatkan ketidak tahuan tersebut oleh oknum agar proses berliku liku. Ia dapat membantu meluruskannya. Tetapi bukan meluruskan moral oknum oknum tersebut. Ia tidak akan sanggup. Tetapi Rufinus akan menangkalnya khusus kepada anda. Contohnya, Ia mengatakan seharusnya kami menelponnya saat kerabat kami di tolak oleh Imigrasi di Jakarta justru saat penumpang  masih belum boarding! Masih ada kans untuk  diselamatkan.  karena menurutnya, dideportasi dari Negara lain tidak berarti dilarang keluar negeri lagi. Padahal catatan merah nya justru bersandar pada fakta tersebut.” Cukup saya  telpon saja, katanya. walaupun itu di Jakarta”. Kalau yang mau lebih berbobot,  semisal  sobat anda tiba tiba saja “tercekal” meski tidak tahu mengapa……. Telpon Rufinus, mungkin dia punya mantera pemunahnya.   Atau dalam keseharian pekerjaan anda berhubungan dengan tenaga asing. Seperti Guru atau Manajer atau salah satu kerabat anda menikah dengan orang asing dan bekerja di Negara kita. Ketika menghadapi situasi berbelit dengan KITAS mereka, Rufinus menyarankan untuk berkonsultasi dengan dirinya terlebih dahulu.Akan lebih bermanfaat……   Nah kurang apa lagi? Kalau tulisan ini dianggap Iklan, wah maaf bukan tujuan kami sama sekali.

Tetapi nampaknya Rufinus telah  lelah. Rufinus merasakan suatu hari Ia akan mengepakkan sayap yang lebih lebar dan terbang lebih jauh dari habitatnya ini . Bukan karena dilandaskan pada tiadanya  masa depan di bidang yang digelutinya selama ini. Bukan karena suatu hari teknologi  akan  menyapu bersih para calo. Bukan karena Imigrasi di Waru satu satunya bersertifikat ISO di Indonesia. Tetapi Ia lelah karena persepsi bahwa selama ini ia hebat karena banyak “Kawan” di dalam adalah persepsi yang “mis”…. Tiada kawan disana. It’s pure business! Ia dan beberapa rekan lain mungkin menganggap sebagai  pemberi “Gizi tambahan” bagi beberapa oknum, tetapi tidak otomatis berarti Ia dianggap Hero . Ironis bukan. Semua seakan  ada takarannya. Grafik Porsi vitamin yang dibutuhkan akan naik sebanding dengan tingkat daruratnya. Mungkin Kesulitan orang lahin adalah kaldu asupan yang lebih manjur. Rufinus  jadi terjepit ditengah. Meskipun secara legal profesi seperti dirinya di akui dengan terbitnya surat ijin berlabel  Jasa Pengurusan Dokumen, tetapi tetap saja Rufinus  merasa gamang dan ambivalen. Dan konflik bathin itu telah berlangsung  20 tahun an…….

Rufinus saat ini sedang berancang ancang untuk membuka usaha baru. Ia dan sesama rekan P3, yaitu Syaiful Irman telah sepakat untuk terjun kedunia Biro perjalanan. Rekan rekan dapat menghubunginya kelak bila membutuhkan ticket ticket perjalanan……..jasa keimigrasian  hanya salah satu item katanya. Ok, sukses ya Ruf ………………………We Still keep your contact on our gadget /(Ric)

 

Category: Headline di Home, Homepage slideshow  |  Tags:

BUKU KENANGAN REUNI ………

Posted by on Tuesday, November 22, 2011 · 1 Comment  

The 2nd EDITION, 2011

Panitia Reuni belum bisa tidur nyenyak kalau “hutang” yang satu ini belum bisa dibayar. Panitia Penggali Dana menggunakan instrument ini sebagai daya tarik dan alasan kepada para alumni 81 untuk mendonorkan fulusnya guna mem back up terselenggaranya even 30 tahunan itu.

Hutang ini bukan hutang moral, tetapi sungguh sungguh kewajiban financial. Didalam Buku Kenangan (kita singkat BK) ada pesan pesan sposor penyumbang dari pihak intern alumni maupun pihak luar (Bank, Perusahaan Publik dll). Dari bulan Juli sehabis Reuni samapai akhir bulan November cukup lama. 3 bulanan.

BK direncanakan hanya sekitar 40 an halaman. Sekarang membludak jadi hampir 100 halaman!….   lho memangnya ditambahain apa aja koq jadi dua kali lipat? Begini begini…., pertama Panitia PD karena setelah masa penggalian dana, koq naga naganya target awal buat reuni pokoknya terselenggara, dananya sudah mencapai target.

Sudah cukup. Kemudian kita koar koar lagi minta sumbangan buat guru guru biar Reuni bukan Cuma pesta nya aja yang muncul kepermukaan. …..Misi sosial nya juga harus ada  dong… Setelah itu Mr Joseph (P5) memimpin dengan “Methode Kalkulasi Moral yang Terukur”  (hebat dia ini…), meliputi 3 aspek  yang yakin bisa  Read More

Category: Aktifitas (BLOG), Headline di Home, Homepage slideshow  |  Tags:

An Evening with LIFIA TEGUH ….LEARN FROM the HUMBLE

Posted by on Sunday, November 20, 2011 · 1 Comment  

An Evening with  LIFIA TEGUH ……….LEARN FROM the  HUMBLE

Saat kami tiba, segala sesuatunya nampak sangat sempit dan sesak,  area  parkir  meluber jauh di jalan raya, Tjahjadi (P5) sampai harus balik kanan untuk menyerah tidak kebagian rongga parkir. Ia dan keluarga  agak terlambat. Pengunjung nya berjubel  dan berdesakan dari segala umur!

 Tiga unit AC tidak dapat menyejukkan ruang pertunjukkan,   Dalam hati kami bertanya, mengapa pertunjukan Piano  berbobot, yang memainkan komposisi sekelas Bach,  Mozart, Chopin ini diadakan di CCCL – Pusat Kebudayaan Perancis jalan Darmo kali ?

Mestinya diadakan di tempat yang modern, luas, dingin, terang, kedap suara  dan ….harum  (sbg syarat fasilitas modern) seperti di  tempat reuni kita  misalnya. Belum lagi kita terbengong melihat  anak anak yang duduk manis dan tidak resah. Bayangan kita , mestinya anak balita sudah gerah dan merengek minta keluar dan lanjut bermain ke mall! Untung Tjahjadi  keburu pulang. Anaknya juga balita, pikir kami. Tapi Anak anak ini terlihat tenang dan sabar dalam menyimak setiap sesi, padahal  suasana interior gedungnya  becorak  klasik dan suram seperti di film Harry Potter.  Rekan kami Stefanus (P4) yang akan mengambil gambar untuk Web kita ini,  tidak dapat memiliki kesempatan untuk menemukan sudut yang layak.

Syukurlah usia kita cukup ampuh untuk  mencoba dengan rendah hati untuk mencerna “sesuatu” yang baru dibanding  aktifitas kita sesiangan tadi. Naluri kita mengatakan tidak mungkin semuanya ini tidak diperhitungkan.

Setiap kali LIFIA TEGUH selesai memainkan sebuah komposisi, pintu dibuka dengan tujuan memberi Read More

Category: Aktifitas (BLOG), Headline di Home, Homepage slideshow  |  Tags:

Poo Tjian Sie…UP TO THE SKY

Posted by on Wednesday, November 16, 2011 · 2 Comments  


POO  TJIAN  SIE ………………..UP TO THE SKY

Eugene B.Sledge, dalam buku nya  “With The old Breed: at Peleliu and Okinawa”, digambarkan  sangat cantik dalam film seri HBO “the Pasific” ,  begitu gelisah  ketika ditahun 1945 Ia bisa selamat dari perang dan menyadari bahwa banyak dari temannya telah gugur. 

Ia gelisah akan jawaban  apa artinya Ia bisa hidup dan pulang, dibanding teman teman nya yang tewas? Apa yang hidup berarti “Hebat”  sedang yang tewas adalah “gagal”? Atau  ini tentang  “keberuntungan” dan “kesialan” ?. Atau yang hidup adalah “pahlawan” atau sebaliknya yang terkubur yang  pahlawan? …..Bukankah  ketika berangkat ke medan perang mereka bersama sama seperti  layaknya sebuah “tour” dengan destinasi  yang sama.

Mengapa  dipenghujungnya banyak yang harus  kembali  kealam baka . Apalah arti “Kejayaan” perang ketika Ia harus konsisten menggali lubang perlindungan manakala tanah yang digali ada mayat  serdadu Jepang yang masih “baru”  didalamnya. Apa yang harus di banggakan  sebagai “Kemenangan” ketika Ia masuk dalam  kumpulan  orang yang getol mencabut gigi emas di mulut  tentara musuh yang masih meregang nyawa.

Apalah makna “Kehebatan” ketika ketepatan perhitungan gerak parabola pelontar apinya ternyata membunuh ibu ibu dan anak anak.  Ia simpulkan bahwa tidak ada lagi  Konsep  yang jelas antara Yang Lolos dan Yang Mati Tertembak. Yang Utuh dan Yang Cacat, Yang Kawan maupun Lawan,  Yang Menang dan Yang Kalah………Semua topik telah berubah.  Hatinya terguncang. Ia mengalami trauma berat dan sangat menderita akibat  luka jiwa yang amat dalam………….Mimpi buruk  yang tersisa dalam dirinya adalah rasa penyesalan karena  Ia tak lebih  adalah sosok  yang telah  membuat penderitaan tak terperikan bagi  sesama “saudara  umat  manusia”.

Dalam melakoni hidup, POO TJIAN  SIE / SIDHARTA ADHIMULYA (P6)  tidak pula berpijak pada Konsep yang  “Umum” tatkala Ia senantiasa berteriak lantang  atas nama “Persaudaraan dan Kemanusiaan”.  Pijakan  hidupnya bukanlah sesuatu yang bergenre   “Kemenangan, Kepahlawanan, Keunggulan, Penaklukan, Kesuksesan  atau  Progresif, Ekspansif ……yang lazimnya analog dengan  masa keemasan “Roman Empire”. Kosa kata favoritnya adalah “Persamaan, Kesetaraan, Solidaritas, Harmoni, Damai, Toleransi, Kemanusiaan, Tanggung Jawab Sosial……dan yang sejenis”.

Poo Tjian Sie nampaknya tidak harus menempuh perjalanan  yang traumatik dan ter tertikam nuraninya  terlebih dahulu untuk menjadi seorang Pemerhati Sosial. Hidupnya  berkutat dengan LSM-LSM…….. Poo Tjian Sie  dikenal  dan di beri predikat sebagai Aktifis Pejuang  untuk Keharmonisan Etnis, Kultur dan Agama. Bahkan sebagai “intektual Tao”……. Sepertinya  Ia Terlahir, Terbentuk serta  “Terjebak” dalam cara hidup dan karakter bawaan  yang genetikal di sana. Dia sadar akan kata sambung dari sikap hidupnya adalah “Resiko, Kontroversial, Melawan Arus…….. diikuti dengan kata akhiran seperti, Bahaya, Aneh, Sia-sia,……..bahkan mempunyai kumpulan catatan kaki seperti  di rendahkan, diancam, didamprat  dst.” Kalangan yang dekat dan mengenalnya, menganggap Ia mengorbankan hidupnya untuk menjadi produk organisasi organisasi yang kerjanya belum tentu di rasakan bagi pihak yang diperjuangkan nya. Kehidupan pribadinya menjadi subyek yang amat sederhana untuk di bicarakan dibanding  kompleksitas gairah yang timbul dari inisiatif  sebagai pejuang sosial yang merupakan  kehidupan publiknya.

Eugene B.Slege yang saat itu baru berumur 19 tahun,  sangat kecewa ketika Ia ingin bangkit dari mimpi buruknya untuk kembali ke masyarakat yang “NORMAL”. Ia dipandang “kurang berpotensi”  ketika  diminta mengisi kolom “Skill yang dimiliki” guna penentuan  pengambilan Jurusan  yang dituju  pada pendaftaran masuk Perguruan Tinggi. Rata rata pemuda diusianya menulis Keahlian Mengetik, Perbengkelan, Olah raga  atau Menulis  dalam formulir tersebut. Ia bukan siapa siapa disana. Perasaan “tidak  berguna” dan “tercampakkan”yang kemudian Ia rasakan…….. Ia mantan  seorang  Marinir yang handal dengan  Bahan Peledak. Ia seorang operator Mortir yang profesional. Ia mahir dalam membunuh. Dan pada “momentum”nya, peran Team Eugene Sledge  sangat krusial dan fungsional. Keakuratan bidikannya menjadikan pergerakan Batalyon nya sangat efektif.

Berteman dengan Poo Tjian Sie akan sekaligus mengenali situasi hati yang murung dan muram  dalam pandangan matanya. Perasaannya  mendua ketika menghadapi dan menyikapi pihak handai taulan.  Pihak pihak yang memiliki standar umum dalam menentukan   indikator dan  kriteria yang dianggap “NORMAL” dalam berkerabat  dan ber masyarakat,  Ia seperti  terbentur pada  tembok penghadang yang amat tangguh.  Pihak pihak tersebut  malah  mengakibatkan luka yang lebih traumatik dibanding “Pihak Lawan” yang sehari hari harus dihadapi.  Keberhasilan  Ekonomi,  Besarnya Tabungan Masa Depan, Keluarga Ideal , Tingginya Jabatan, Tingkat Popularitas, …….adalah  jenis jenis Tolok Ukur yang umum dan trendi  di lingkungan keseharian kita,  yang celakanya  justru berlaku  bak virus yang dapat mengamputasi dan melumpuhkan spiritnya.

Poo Tjian Sie adalah seorang yang amat perasa secara komunal. Ia sangat peka akan adanya kecenderungan gangguan yang ber aroma pelecehan, represi, diskriminasi, Intimidasi  atau provokasi untuk kelompok kelompok masyarakat Minoritas. Ia mempunyai kecenderungan untuk bersikap reaktif explosif terhadap hal hal yang dirasa “hipokrit atau munafik”. Bahkan Ia memandang bahwa populasi spesies ini semakin eksis  dan establish membonceng label  ” perkembangan jaman”. Ia tidak bisa berkompromi dengan sesuatu yang “memanusiakan”  kita versus degradasi sosial atas nama kompetisi hidup. Ia begitu sibuk untuk peduli dengan Penggusuran Pedagang Buku Bekas di jalan Semarang Surabaya. Ia sanggup untuk melibatkan Marketer Kelas Dunia untuk mendukung terwujudnya Kampung Ilmu.Padahal Ia secara pribadi tergusur dalam banyak jenis gelangang, tapi siapa yang peduli. Dalam situasi  ketegangan  yang mendekati chaotic  di masyarakat,  ekstremnya seperti di tahun 1998, Poo Tjian Sie adalah seorang “Figur”yang menemukan  “momentumnya, Ia ada di atas pentas forum kalangan yang tersasar. Ia berbicara, dan Ia didengar. Perannya signifikan. Tetapi setelah ketegangan berlalu, He is Nobody. …… Terkadang Ia merasa sebagai petugas PMK yang hanya di ingat dan di butuhkan waktu terjadi kebakaran saja……Nama Sidharta Adhimulya adalah nama yang “berat”bagi penyandangnya. Nama yang memunculkan banyak konten kalau kita ketik di “Google”.  Nama yang kerap di puji bahkan oleh kalangan intelektual jebolan Pesantren. Nama dengam konten yang mengadirkan warna dan wacana berdemokrasi.  Konten konten yang menghantar anda untuk  lebih mengenal pribadi dan dunianya.

Ayah Eugene Sledge yang seorang Dokter berusaha keras untuk memahami kondisi kejiwaan anaknya yang limbung total. Ayahnya dengan sabar menanti “kembali”nya sang anak pada keceriaan sebelum Ia berangkat ke Pulau pulau kecil di lautan Pasifik di tahun 1943. Ibunya lebih tidak sabar. Ibunya ingin ia berkarir di Bank seperti pemuda lainnya. …….Namun Sledge tetap tercenung. Sledge melihat orang orang disekitarnya senantiasa  bergegas dan “meributkan” sesuatu yang dianggapnya sangat “remeh”. Orang orang itu tidak menyadari bahwa betapa berharganya hidup yang tidak pernah tersentuh oleh  horror perang……. Hidupnya mulai berubah ketika ayahnya menyarankan Ia untuk menjalani karir sebagai pemerhati kepunahan hewan burung dan belajar  ilmu ornithology . “Saran manis” tersebut tercetus  ketika Ayahnya melihat Sledge menangis “hanya”  karena melihat burung yang terluka ketika digunakan sebagai rekreasi berburu.” He could no longer tolerate seeing any suffering”. Dimasa akhir karirnya, Sledge adalah Professor ahli Biology di Univ. Montevallo-Alabama, yang oleh mahasiswanya  Ia dikenal  berkebribadian halus, gemar  trip dan mengumpulkan bahan bahan di lapangan.

Mungkin jawaban bagi Sledge  tentang “selamat” dari perang adalah sebuah bentuk konsep “gift-hadiah” dari Yang Maha Kuasa yang  sekaligus dibebani  misi untuk menyuarakan : There is no such glory in war……. War is nothing but the graves……Don’t make a desert and you call it “peace”.

Poo Tjian Sie sangat “Curious”, bahwa apa sebenarnya yang “langit” inginkan dari orang seperti dirinya. Seperti apa…. Atau, sebagai apa sebenarnya  ujung perjalanannya. Apa profesi formal atau status sosial dan pencapaian  ekonomi bagi orang yang sejujurnya justru tidak terlalu memikirkan dirinya sendiri,  Rohaniawan?  Atau  justru Usahawan?. Kenapa tidak? Masuk akal jika mengingat  intensitas  interaksi nya  dengan nama nama besar Pemilik Usaha papan atas.

Ia menunggu dan menyerahkan jawabannya nya kepada langit………….it is Up to The Sky.

Tulisan ini ditujukan kepada teman teman alumni  untuk  mengenal  lebih dekat dengan teman se angkatan kita ini. Menyadari akan “kekayaan dan aset ”  komunitas kita.  Sekaligus mungkin lebih dapat memelintir parameter parameter penilaian standar kita terhadap seseorang. Kita tidak mengeneralisasi  semuanya  dengan kalkulasi Untung –Rugi dalam membuka Pertemanan.  Selanjutnya  kita akan lebih  paham dan lebih menghargai kepribadian seseorang.

Eugene B Sledge

Dan juga tulisan ini ditujukan kepada Poo Tjian Sie sendiri khususnya , untuk tetap tabah dan sabar menunggu  dengan mengambil  persamaan sebagai pemerhati kehidupan yang gelisah pada awalnya, dari  ilustrasi kisah nyata  Koporal Eugene B. Sledge (1923-2001). Seorang yang mengalami disorientasi berat dimasa remajanya,  yang  perlahan lahan dituntun menemukan bentuk pribadi nya yang baru dan mantap. Kesabarannya  merupakan suatu  bentuk optimisme akan adanya jawaban dari “Langit” berwujud  “saran manis” untuk menemukan ujung kelana bagi “an extra ordinary person”.

Category: Headline di Home, Homepage slideshow  |  Tags:

Reuni Akbar di Grand City

Posted by on Wednesday, August 24, 2011 · Leave a Comment  

REUNI 30 TAHUN  ALUMNI SMAK ST.LOUIS ANGKATAN 81

 

Berita reuni adalah Headline pertama dari 30 tahun penantian  panjang perjalanan para alumni angkatan 81 Smak St.Louis. Berita berita lain hendaknya menyusul dengan keberadaan website ini.

 

Satu tahun sebelumnya, Reuni hanya desas desus. Rumor tentang siapa siapa yang sepatutnya berinisiatif menjadikan semuannya nyata terlaksana.  Sejak era Facebook, reuni  telah menjadi suatu trend dimana mana. Reuni kita hanya masalah waktu saja peyelenggaraannya, karena angkatan angkatan lain getol melaksanakannya pula. Bahkan tingkatan kelas sudah banyak yang reuni-an. Tapi kita hendaknya berterimakasih kepada pihak pihak inisiator yang justru tidak nampak dalam kepanitiaan formal. Banyak versi untuk cerita ini. Banyak  pendapat yang dapat disilangkan. Tetapi sesuai dengan apa yang telah kita saksikan dan alami semuanya, reuni telah terlaksana dengan gempita. Reuni milik kita bersama.

 

Tgl 9 Juli 2011 di Diamond Room Grand City – Surabaya, adalah waktu dimana kita dibuat dan dibuai oleh suasana yang serba era 80-an. Dimulai dari Read More

Category: Aktifitas (BLOG), Headline di Home, Homepage slideshow  |  Tags:

Pesta Ulang Tahun Soemiasih atau…

Posted by on Thursday, August 11, 2011 · Leave a Comment  

PESTA ULANG TAHUN SOEMIASIH atau RAPAT FORMATUR CALON KETUA ALUMNI ?

 

Kalau ada pihak yang merasa terkecoh, yang mengira bahwa menjadi anggota panitia  reuni  hanya sibuk pada awal awal nya saja. Kemudian berangsur angsur turun dan akan berakhir menjadi  klimaks, yaitu pada  hari “H” bisa cooling down menikmati  segala hasil jerih payah, …..adalah Soemiasih [p4] bendahara kita.

Yang terjadi justru sebaliknya. Dari awal awal sibuk mensosialisasikan reuni. Di tengah tengah menjadi sangat “tegang” apakah dana akan mencukupi. Menjelang acara puncak, justru lebih sibuk untuk  mencocokkan budget dan akuntabilitas… ….setelah acara selesai, masih harus membuat laporan pertanggung jawaban.

 

Berakhir? ……..belum. kita masih berperan dan keterusan untuk buat Ikatan Alumni.

 

Lalu apa yang kita risaukan? Salah satunya adalah budaya teman teman kita yang enggan menonjolkan diri sebagai calon ketua, walaupun team Formatur yang diwakili oleh masing masing kelas, telah meyakini kemampuan kandidat yang dimaksud.

 

Formatur, yang mempunyai catatan rekor kehebatan lobby teman kita Soemiasih dalam pengalaman menembus batas batas persepsi yang sulit dalam perjalanan membangun reuni, mengambil suatu sikap yang luar biasa unik. Read More

Category: Aktifitas (BLOG), Headline di Home, Homepage slideshow  |  Tags:

MAKAN SIANG DI RUMAH MEI ING

Posted by on Thursday, August 11, 2011 · Leave a Comment  

 

 

YOU SHOULD KNOWN HER,  BETTER

 

Tjoa Mei Ing, adalah sosok yang tiba tiba menyeruak ditengah tengah kita. Dia tiba tiba berada digaris depan eksistensi angkatan 81 dengan  pesona karakter nya  Mungkin kita tidak terlalu mengenalnya  setidaknya 3 bulan sebelum Reuni. Rekan super aktif kita Tjahjadi yang  tiba tiba mengusulkan ke Panitia, bahwa kita membutuhkan  Mei-Ing untuk menggerakan teman teman P6. Memangnya siapa dia?…………..You should known her better.

Perannya dalam menggerakkan teman teman sekelasnya, membuat panitia reuni harus banyak berterimakasih. Usulannya mencengangkan ketika ditanya apa yang sebaiknya diusulkan apabila kita memiliki ikatan alumni. ……Bikin Panti Jompo !

 

Ketika Mei-Ing di undang untuk hadir rapat sebagai anggota formatur Forum Komunikasi Alumni 81 di rumah drg.Witarmin (p1), porsi terpenting kehadirannya  adalah bagaimana porsi  “soto” buatannya  terbagi rata untuk teman teman yang hadir.

Lebih jauh untuk tahu pesonanya, simak ini. Lebih dari 15 kali Panitia Reuni rapat setiap hari Sabtu menggunakan fasilitas ruang di tempat praktek drg.Witarmin termasuk konsumsi yang konstan. Tak sekalipun Read More

Category: Aktifitas (BLOG), Headline di Home, Homepage slideshow  |  Tags:

HERMINE CHAN … The Amazing Journey

Posted by on Thursday, August 11, 2011 · 2 Comments  

Terlewat dari acara reunian kita, tidak lah mengesankan pribadi yang mudah dilewatkan untuk berbincang. Kesan Wanita yang matang dan mandiri yang terpancar dari cara berkomunikasi persuasifnya ataupun lewat media tulis untuk mengekspresikan apa yang dikehendaki maupun dipikirkan, cukup menarik. Ia ternyata berdomisili di Singapura. Namanya kini Hermine Chan, dulu kita mengenalnya sebagai Hermin Saksono.

Kami menyapanya dengan pembuka betapa menyesalnya kami, khususnya teman teman P1 karena Hermine baru “ditemukan” setelah pesta gempita reuni usai. Dan kita berusaha untuk meyakinkan bahwa itu jauh lebih baik daripada total lost dari pelacakan kita. Terimakasih kepada Facebook dan terimakasih kepada Anna Lukito (p1) atas responnya kepada Hermine. Kami menawarkan kepada Hermine bahwa masih ada kesempatan untuk menjadi bagian dari Reuni yang terlewat dengan berpartisipasi dalam menyumbang dana. Dana tersebut selanjutnya akan di manifestasikan dalam bentuk tampilan-exposure yang proporsional di Buku Kenangan. Responnya mencengangkan untuk kelas donasi orang yang telat ikut reuni……. Dana nya ada di urutan paling akhir yang masuk rekening UGD (Unit Golek Duwit). Transfer dana yang diberi catatan “tidak untuk exposure” di buku kenangan itu jumlahnya cukup buat bayar lebih dari 20 % budget untuk mencetak 400 an eksemplar buku kenangan itu sendiri.

Belum selesai eforia kangennya dengan Hermine, kami buru buru memberitahu rekan Stefanus (p4) untuk mencantumkan berita berpulangnya ayah Hermine di Kolom Duka website kita. Kami teman teman angkatan 81 St.Louis ikut berduka dan mendoakan ayahnya mendapat tempat yang layak disisiNya serta ketabahan kawan kita ini dalam menjalani hidup kedepan.

Hermine Chan ber Warga Negara Kanada dan pada saat ini bertempat tinggal di Singapura sejak 7 tahun lalu. Lho koq jauh amat menyimpangnya dari teman teman yang masih “normal” ber Warga Negara Indonesia dan bertempat tinggal di Surabaya?
Itulah yang mau kita dengar dari alumni PASSAT’81 (paspal satu) ini…………..

Selepas dari bersekolah jl.Dr.Sutomo, Ia melanjutkan kuliahnya di USA dan setelah tamat Ia sempat bekerja di Bank di Negara Paman Sam itu selama 2 tahun. Pilihan setelah itu adalah kembali ke Indonesia dan menetap di Jakarta. Di Ibukota, Ia bersama kakak nya mengelola Salon dan Fitness club. Cerita hidup bermula disini, di Jakarta ini, karena sebenarnya mereka kakak beradik telah hidup dalam zona yang nyaman gaya Indonesia. Hidup dibilangan Pondok Indah dengan ekonomi mapan dan segala urusan rumah tangga ditopang pembantu dan pergi ke mana mana di bantu sopir. Suatu Zona yang tidak tepat untuk di rubah dan bahkan dijadikan taruhan untuk mengambil resiko resiko baru. Tetapi entah apa menurut teman yang mengganti nama akhir Saksono menjadi nama Marganya karena selalu di sangka orang jepang ini, justru bertindak sebaliknya. Akhir tahun 1994, Ia yang secara “iseng iseng” mengajukan visa migrasi kepada pemerintah Kanada, ternyata dikabulkan dalam 2 bulan!….. Dan berlaku untuk seluruh keluarga! Dari sini proses migrasi bermula. Hermine berangkat sendiri terlebih dahulu.
Tiba tiba segala sesuatunya menjadi tidak nyaman lagi . Ia bukan jebolan Perguruan Tinggi negara Kanada. Ini Negara yang total asing dan tidak ada teman atau sanak famili dalam jangkauan. Sistem yang cukup awam telah membuatnya harus menangis hanya untuk membuat Rekening Bank yang vital untuk menampung dana penopang kelangsungan hidupnya. Hari hari berlanjut dengan sesuatu yang terasa bergelayut dan tak menunjukkan arah yang pasti. Ini tidak harus berlangsung selamanya. Karakter keras yang tertempa semenjak SMA yang harus mengelola Rumah bersama adik di jalan Kecilung karena Ortu berdomisili langsung di Pabrik dikota Malang, menantangnya untuk berani mandiri secara finansial. Ia harus bertindak! ……Cari kerja. Terlihat normatif untuk orang seusianya, tetapi tidak untuk dinegara yang asing.

Hermine mengisi 200 an formulir lamaran kepada 200 an perusahaan dan mengirimkan melalui Pos …….setiap hari, berbulan!
Yang hebat, responnya tidak ada, bahkan hanya untuk sekedar wawancara.
Termasuk kepada perusahaan yang bercokol di Alaska yang beku dan sendiri pun, Ia telah bertekad, tetapi tetap tidak berbalas.
Sampai suatu hari Ia putuskan untuk melamar kerja kepada Pemerintah yang dianggapnya mustahil karena ia bukan warga Negara. Ia masih berstatus Permanent Residence kala itu. Tetapi itulah uniknya hidup, dengan satu kali panggilan wawancara, Ia diterima sebagai seorang Auditor sesuai dengan kesarjanaan bidang studi yang dimiliki, Akutansi. Karena menyangkut bidang Keuangan dari Instansi Negara yang bersifat rahasia, maka Hermine haruslah ………menjadi Warga Negara Kanada! Kini Ia adalah seorang Auditor General yang memeriksa kelayakan pencatatan peristiwa peristiwa transaksi keuangan Instansi Pemerintah dari Negara anggota G7. Ia memulai karirnya dengan tertatih tatih hanya untuk punya satu Rekening Bank. Suatu konversi yang luar biasa khususnya kalau anda mengenalnya semasa SMA.

Ketika pertama bertatapan langsung, Kami melihatnya sebagai seseorang yang sama sekali lain. Tulisan ini dibuat karena mengesankan ini. Ia bukan orang yang dulu kita kenal. Sangat mantap. Pandangan matanya tajam ketika kita ajak bertutur. Percaya diri dan kaya dengan kosa kata. Berkali kali harus kita ingatkan diri kita bahwa Ia Hermin Saksono yang dulu satu kelas di SMA. Ada kata bijak yang mengingatkan bahwa waktu tidak merubah apapun terhadap diri kita, tetapi kita lah yang merubahnya. Hermine telah merubah dirinya. Sangatlah menarik untuk menyimak pandangan dan gagasan nya tentang situasi ke kini an ber negara, ber masyarakat dan ber teman dalam perspektif global!

Hermine saat ini hidup di Singapura dengan Ibu dan dua remaja anak angkatnya. Ia tetap berada di Negara tetangga ini sampai kedua buah hatinya cukup mandiri. Ia terlihat mapan sebagai penduduk di Negara yang serba mahal ini. Hermine terlihat familiar di tempat ketemuan yang Gedungnya terbatas untuk anggota yang berkartu, dan menurutnya, gedung tersebut harus dijaga ketat setiap tgl 4 Juli. Hermine telah sign in di web kita ini, kami harap teman teman yang ingin lebih jauh mengenalnya sekarang, atau kebetulan ke Singapura, ada baiknya kita sapa dia. She is so welcome…………..She is our old friend

Category: Headline di Home, Homepage slideshow  |  Tags:

Mari Bergabung

Posted by on Thursday, August 11, 2011 · 1 Comment  

Reuni telah berhasil melacak dan mempertaut kan lebih dari 300 anggota kita. Sementara lebih dari 100 nama yang belum dapat ditelusuri jejak domisili nya.

Adalah tugas kita semua untuk terpanggil “mencari” dimana para kerabat kita tersebut. Dengan keseriusan dan dibantu teknologi perangkat mesin pencari di dunia maya, maka tak mustahil suatu saat angka anggota kita yang telah masuk dalam data base FORKOM St Louis- 81  akan mencapai diatas 400 orang.

Kita menginginkan  FORKOM -81 mempunyai naluri  yang sensitif dalam memanfaatkan setiap momen yang berkesempatan untuk menemukan dimana teman teman kita tersebut.

Alangkah luhurnya ketika kita dapat merealisasi keterikatan kita dalam jumlah maksimal berbobot 9 kelas atau lebih dari 400 orang. Dalam komunitas ini terdiri dari beragam dan berbagai proffesi-keahlian , hobby, strata social, pengalaman, lokasi, dll. Dimana mereka dapat akan dapat saling berkumpul, berinteraksi dan saling membantu diantara ke sesamaan nya.

Mereka  bahkan dapat  membantu  dengan tulus kepada anggota atas ke lebihan yang tidak dimiliki individu atau kelompok lain, dengan kerangka dan penekanan keberpihakan.

Konkritnya , kita akan me wadahi secara  aktif  insan insan sesama proffesi, hobby, atau rohani dll dan secara simultan, dan mendorong  interaksi antar wadah tersebut kearah positif  secara masif dan kontinyu.

Kata Kunci dalam menggapai signal positif dan respon dari masing individu angkatan 81 SMAK St.louis, untuk bergabung dan menjadi bagian dari rumah persaudaraan yang kita susun setiap batu bata nya untuk menjdi dinding persahabatan yang kokoh,  adalah “PENGHARGAAN”

Setiap nama, yang ada dalam daftar angkatan 81 SMAK St. Louis, adalah otomatis anggota, yang harus di hargai sebagai individu yang berkarakter UNIK, yang memperkaya khasanah potensi bangunan Forum komunikasi  teman SMA kita. Mereka adalah otomatis dapat memasuki  rumah kita dan berinteraksi berbagai ruang ruang yang kita bangun, baik dari ruang proffesi, ruang hobby, ruang berpendapat, ruang  kerohanian, ruang berbagi suka-duka, dll. Tak ada lagi ruang yang berlabel penjurusan. Kita akan mewujudkan  kembali bangunan cita cita sekolah SMA St.Louis kita tanpa sekat masif masing masing kelas. Mereka adalah asset kita yang patut kita beri PENGHARGAAN

Category: Aktifitas (BLOG), Headline di Home, Homepage slideshow  |  Tags: