Family Gathering ke 4 di Bali

bali-1 BALI-2-1

St Louis Morning Cycling

 

 


Biking not Baking. Perbedaan ketik satu huruf bisa berarti sangat bertolak belakang . Yang pertama membakar kalori, merupakan kegiatan outdoor, dan yang bekerja paling banyak adalah anggota badan kaki, sedangkan  yang kedua justru menimbun kalori, merupakan kegiatan indoor, dan dalam bekerja, anggota badan tangan yang paling berperan. Tapi pesan moralnya adalah , jangan karena merasa telah berolahrga, maka kita punya lisensi untuk bebas mengkonsumsi makanan makanan bergula tinggi sesudahnya.

 

Bersepeda rupanya menjadi trend yang paling rasional dan massal dilakukan oleh masyarakat kota besar untuk lepas dari  destinasi hiburan seperti Browsing Internet, pergi ke mall, nonton TV, mencari hiburan malam dan sejenis lainnya. Orang bisa mempunyai alasan untuk menghindar dari  rekreasi plastis tadi, atas nama besok pagi akan pergi bersepeda………..bersepeda sehat!

 

Mungkin tidak popular di kota kecil orang beramai ramai bersepeda dengan kostum dan sepatu balap, ber helm khusus , menunggang sepeda yang garang dan ber kacamata sport. Mereka  yang di kota kecil, bersepeda karena sepeda adalah alat transport standar. Bahkan di negara Tirai Bambu pun kendaraan ini masih tetap menjadi pilihan utama. Apa kira kira yang dipikirkan  orang yang sehari harinya naik sepeda sebagai kendaraan utama setelah melihat dan mengamati  orang yang naik sepeda dengan santai di jalan raya  dengan kostum balap ?……….ah ternyata orang itu sedang ber rekreasi. Sepeda mereka bukan alat transportasi seperti miliknya, melainkan alat olah raga.

 

Jadi letak rasionalnya adalah, dengan bersepeda, kita bisa membakar kalori  diluar rumah, sehat karena kena udara dan sinar matahari langsung, murah-meriah tanpa terlihat murahan,  bisa dilakoni beramai ramai dengan keluarga dan teman. Kegiatan ini telah ditunjang dengan tanggap dari pemerintah kota. Di beberapa kota besar, telah dikenakan zona khusus bebas mobil pada hari hari libur, sehingga berkendara sepeda sehat lebih aman dan nyaman.

 

Salah satu motivator yang membuat orang orang diperumahan berkelompok dan membangun komunitas bersepeda adalah tak lain dari Perangkatnya. Sepeda sepeda tadi bukan kendaraan yang sederhana lagi. Sepeda bisa diwarnai dengan banyak asesoris yang menyertainya. Belum lagi komponen material kerangka nya, sangat menentukan dari segi ringan-berat bobot nya. Mekaniknya merupakan hasil teknologi yang berkembang sehingga berkorelasi dengan kenyamanan.  Kesemuanya kemudian dibalut menjadi bentuk multi varian komoditi  yang berujung pada diferensiasi harga dan merk.  Menjadi ajang hobby dan diskusi. Menjadi ajang jati diri. Tetapi semuanya tetap dalam kerangka unik dan exiting. Kerangka yang tidak membosankan.

Yang lebih canggih, adalah perkembangan sebagian anggota masyarakat untuk menjadikan sepeda balap diatas,  kembali menjadi alat transpor utama di kota megapolitan. Terobosan mereka di dorong oleh kesadaran atas nama pengurangan emisi karbon atau polusi. Kesadaran akan mengurangi kemacetan atau setidaknya menghindarinya, serta kesadaran perlunya hemat energi, investasi  dan biaya operasional dibandingkan dengan memiliki dan mengendarai mobil. Tanpa perlu merasa rendah diri.

 

Jadi teman teman, Bersepeda adalah wacana masa depan.  Bentuk dan aktifkan komunitas ini.  Bersepeda adalah jawaban atas banyak masalah transportasi dimasa depan. Kita biasakan kembali perilaku yang kita tinggalkan dimasa kecil itu.  Untuk tahap awal kita mulai bersepeda dengan tujuan sederhana, sehat.

 

Minggu, 9 Oktober 2011, pk 6.00, untuk pertama kali kegiatan bersepeda bersama alumni 81, diadakan.

Walaupun hanya 4 orang, yang terdiri dari: Grace (P2), Mei Ing (P6), Pujiono (P4), dan saya sendiri Stevie (P4), kami tetap bersemangat memulai olahraga ini. Ada beberapa teman yang kami coba ajak bergabung, rupanya karena berbagai sebab, masih banyak kendala mereka untuk hadir.

Rute yg kami ambil untuk pertama kali ini, hanya seputar jalan Raya Darmo yang sdh dijadikan area ‘car free day’, sehingga udara segar masih terasa. Karena baru pertama kali nggowes, rute yg demikian ringan ini, terasa cukup melelahkan, tetapi kami sepakat untuk mencari tantangan baru yang lebih besar di minggu-2 berikutnya.

‘St Louis Morning Cycling’ itulah nama kegiatan ini, hari Minggu 16 Oktober 2011, adalah minggu ke-2 kita nggowes, dengan rute daerah perumahan Citraland, di Surabaya Barat. Rute yang benar-2 menantang, kami datang masing-2 dengan membawa mobil, karena jarak yg cukup jauh. Hasilnya bagus sekali, kami menemukan rute yg ‘lain’, sehingga lebih mendapat ‘hasil’ dan kesan yg lebih ketimbang minggu pertama.

Kegiatan ini akan secara rutin diadakan setiap Minggu pagi, mari temen-temin silahkan gabung di komunitas bersepeda sehat ini.

Category: Bersepeda, Hobby  |  Tags:

Cinema

 

 

Adalah suatu kebanggaan apabila dalam perjalanan karir anda, ternyata masih dapat menyempatkan diri mengumpulkan berbagai koleksi film film komedi klasik barat seperti  Charlie Chaplin, Bob Hope, Crazy Boys, Jerry Lewis, atau Film film Silat atau Drama klasik Hongkong yang dibintangi Wang Yu, David Chiang, Tilung, Chen Pei Pei, Lin Ching Shia.  atau Film klasik nasional seperti Tiga Dara, Lewat Jam Malam, Panji Tengkorak dll. Atau mungkin fim film berlatar belakang sejarah seperti Gone with the wind, War and Peace, Dr,Zhivago. Agak terasa bergetar perasaan kita walau hanya menyebut nama artis atau  judul film nya saja.  Film yang membawa pikiran kita kembali ke suatu masa yang lugu. Suatu masa yang sama sekali lain dengan jaman manipulatif kita sekarang.

Atau sedikit lebih aktual, adalah  sebuah  penghargaan pula apabila di group Cinema ini ada yang masih berminat untuk memutar film film Idola jaman SMA kita dulu seperti  Flash Dance,  Grease, Saturday Night Fever, atau Cinta Pertama, Badai Pasti Berlalu, Dibalik Kelambu dengan Eros Djarot sebagai ilutrator musiknya. Aktor-Aktris  Kristin Hakim dan Slamet Rahardjo yang masih muda, …..atau kita apresiasi pelawak yang legendaris seperti Bing Slamet, Ateng, Iskak, Benyamin S. Dan masih banyak lagi kalau mau kita menatap kebelakang.  Akan sangat berbeda suasananya jikalau film film itu dapat dinikmati  bersama sama teman se jamannya.

 

Group Cinema bukan di artikan sempit menonton film lama yang bisa di unduh dari Internet. Tetapi lebih kepada Apresiasi, Komparasi dan sekaligus study tentang suatu perjalanan masa melalui media film. Menikmati film film lama sampai menjadi baru sperti Sekuel Godfather dari tahun 60 an sampai tahun 90 an. Juga Starwars dari tahun 70 an sampai jaman anak anak  kita, adalah menunjukkan kejeniusan Francis Coppola dan Steven Spielberg.

 

Juga Film film yang bercerita tentang sejarah lama tetapi kelebihannya adalah “detail” sebagai kekuatannya  contohnya adalah “Shadow Maker” tentang  kontradiksi keputusan untuk membuat Bom Atom, “Path of War” merincikan tentang pertentangan antar penasehat Presiden yang membuat terperosoknya Amerika ke Perang yang kalah, Perang Vietnam, “Conspiracy” beradegan tunggal tentang rapat pejabat Nazi dalam mencari solusi finalnya dalam “problem Yahudi”………Film ini bisa didapat di toko CD original tetapi tidak diputar di bioskop karena tidak komersial seperti “Transformers”

 

Maka Tampilkan Hobby anda itu ke group ini.  Informasikan tentang kesukaan anda akan jenis jenis flim yang anda koleksi. Niscaya dan Pasti diantara teman teman kita ada yang sejalan dengan anda. Koleksi bisa saja  berbeda, akan tetapi diskusi dan interaksi antara penggemar cinema, akan menyegarkan dan memperluas topik pembicaraan kita sehari hari. Kegiatan dapat berlanjut dengan memonitor dan menonton film film yang  akan di putar di bioskop bioskop, yang pada saat ini amat memanjakan spektatornya. Atau mungkin anda mempunyai home theatre yang representatif untuk menjadikan film film lama tetap incredible untuk ditonton. Koordinator akan menerbitkan secara berkala schedule appresiasi kepada film film tertentu, sehingga teman teman lain yang bukan kolektor pun bisa tertarik bergabung

 

 

Category: Cinema, Hobby  |  Tags:

Bowling

Posted by on Monday, October 3, 2011 · Leave a Comment  

 

 

Kita tentu  ingat, dikala  kita masih SMP, di jalan Basuki Rahmat, sudah ada Gedung yang bernama Bowling Centre. Atau di Pertokoan Wijaya juga memiliki Fasilitas olah raga ini. Pertokoan  Wijaja sudah berganti rupa menjadi mall baru yang sekarang bernama BG Junction. Bowling Centre di jalan Basuki Rahmatpun sekarang  sudah beralih menjadi gedung pusat makanan dan supermarket. Keduanya tidak mempunyai fasilitas permainan Bowling.  Pernah ada di Pertokoan Plaza Marina jalan Margorejo, tetapi tidak bertahan lama. Perdagangan gaged Celular Phone mungkin dianggap lebih menguntungkan sewanya dibanding permainan lempar botol yang boros listrik ini. Justru di gedung mantan permainan Go-Skate di jalan Embong Malang yang memilikinya.

 

Tapi Permainan yang membutuhkan gedung bagus dan peralatan yang mekanis otomatis ini, tetap eksis sampai sekarang. Regenerasinya berlanjut, Kejuaraan dan turnamennya tetap kontinyu.  Investornya berganti ganti. Tetapi patut kita beri penghargaan.

 

Bowling kalau kita mencobanya, akan cepat sekali menjadi addict alias ketagihan. Kita selalu dibuat  penasaran untuk menjatuhkan  botol botol yang berjajar rapi itu . Entah Naluri apa ini. Mengapa kalau kita bisa membuat suatu susunan benda yang tertata rapi menjadi semburat, hati kita justru lega. Mungkin kita ibaratkan botol botol itu adalah satuan rintangan yang membelenggu jiwa kita. Setelah mendobrak barikadenya timbulah aroma kemenangan dalam hati kita. Apalagi tanpa terlalu banyak teori dulu, eh ternyata lemparan pertama kita mampu menjatuhkan sebagian deretan botol botol itu. Mulailah kita tidak  sabar menunggu giliran kita. Lemparan demi lemparan mengharapkan perbaikan hasil. Ternyata Lemparan yang berulang ulang itulah sisi aerobiknya. Sisi positifnya. Sisi Olahraganya. Lupakan dulu prestasinya, tetap kembali bermain walau belum maksimal hasilnya. Itu awal yang baik. Apalagi ber ramai ramai  bersama teman teman kita.

 

Tempat bermain Bowling  rata rata sejuk ber- AC, Cuma kelemahannya adalah tiada disiplin bebas asap rokok. Jangan terlalu berharap untuk masalah ini,  karena pengelolanya terkadang takut pelanggannya kecewa dan kabur.

Pergi berolah raga Bowling tidak merepotkan Tidak  perlu membawa perlengkapan spesial dari rumah terlebih dahulu . Bahkan sepatu tersedia untuk di sewa ditempat.

 

Coofee shop pasti ada. Sambil bermain kita bisa mengobrol dan makan kudapan.

Bagi teman teman yang ingin ber olahraga tetapi terhindar dari sinar matahari langsung, atau secara prinsip  kebalikan dari olahraga golf, khususnya  dari segi kompleksitas peralatan, persyaratan kostum, dan bekal Teori serta  Rule sebelum bisa bermain, sepertinya group bowling layak jadi tempat rujukan bergabung.

 

 

Category: Bowling, Hobby  |  Tags:

Trip & Traveling

Posted by on Monday, October 3, 2011 · Leave a Comment  

 

 

Banyak teman kita yang hafal jalan jalan kecil  dan seluk beluk di Negara seperti  Singapura, Hafal pula jalan jalan di kota Perth, atau bahkan di kota Shenzhen yang kesemuanya bukan tempat tinggal aslinya. Mereka adalah  pelancong manca negara kelas wahid. Akan tetapi mereka akan sangat merasa asing  apabila  ditanya tentang Read More

Category: Hobby, Trip & Traveling  |  Tags:

Kuliner

Posted by on Monday, October 3, 2011 · Leave a Comment  

 

Adalah seorang Tonny Tjindradjaja (P1) yang mempunyai kemampuan untuk serta merta  men-sms anda dengan data mendetail tentang keberadaan alamat –nama rumah makan, depot yang populer, restauran  yang patut di rekomendasi, lengkap dengan jenis makanan khasnya. Data data tersebut meliput data kuliner di  suatu kota di bagian timur wilayah Indonesia. Read More

Category: Hobby, Kuliner  |  Tags:

Bulu Tangkis

Posted by on Monday, October 3, 2011 · Leave a Comment  

 

 

Sudah lama kita mengetahui bahwa lapangan bulu tangkis termasuk lapangan yang sulit untuk di sewa. Bukan karena harga sewa per jam nya mahal, tetapi lapangan tsb sudah penuh di booking. Waktu bermain rata rata setelah pulang kantor, sekitar pukul 6 sore. Waktu operasional normal sampai pukul 10 malam. Maka praktis  satu lapangan hanya efektif terpakai 2 x 2  jam perhari. Selama seminggu, maka hanya ada kesempatan 7 x 2  kelompok yang dapat menggunakan. Tiap kelompok  biasanya mempunyai jadwal  rutin bermain sekali dalam seminggu. Maka jelas terbatas sekali efektifitas penggunaan satu lapangan bulu tangkis.

 

Membicarakan tersedianya lapangan  bulu tangkis untuk disewa mempunyai dua aspek yang relevan dalam membentuk group olahraga ini. Aspek pertama adalah ketersediaan lapangan harus dipastikan  terlebih dahulu, dan yang kedua adalah olah raga ini sangat popular di negeri kita. Peminatnya pasti cukup banyak. Cukup banyak kalau dilihat dari sudut pemain junior nya se Jawa Timur saja bisa mencapai 2000 orang. Benar benar olah raga yang merakyat.

 

Bulu tangkis adalah olah raga malam hari. Bulu tangkis tidak lazim dimainkan siang hari, melainkan sore sampai malam hari. Entah karena pemainnya baru bisa datang selepas jam kantor atau karena melihat pertandingan final kejuaraan nya selalu malam hari. Bulu tangkis juga tidak afdol untuk  dimainkan pada akhir pekan. Pada akhir pekan banyak orang memilih ber rekreasi  bersama keluarga. Jarang satu kelompok atau klub Bulu Tangkis datang atau terdiri dari satu keluarga. Bulu tangkis adalah olahraga type permainan dengan oposisi. Rival tentunya cenderung setara secara fisik, umur, ketrampilan  dll. Sehingga jarang lawan dengan ciri diatas datang dari kalangan keluarga. Bulu Tangkis bukan permainan yang lazim dimainkan antara anak melawan ayahnya.

 

Olah raga bulutangkis dikenal sebagai olahraga yang tidak mahal, bukan olahraga yang dikategorikan elite.  Tetapi anehnya Bulu Tangkis digemari oleh semua strata sosial ekonomi. Artinya Orang kalangan atas menengah dan bawah dalam pengertian ekonomi sah sah saja menjadikan Bulu Tangkis sebagai pilihan berolahraga. Orang yang prominen atau sejahtera tidak akan merasa atau terlihat turun gradasinya karena permainan ini. Semuanya tentang seni permainan, yang senang Go!

Peralatan untuk bermain relatif tidak mahal. Range deviasi perbedaan harga peralatan nya, dalam hal ini raket tidak mencolok. Bisa dikisaran 10 sampai 20 kali lipat. Artinya raket yang seharga 150 ribu Rupiah sudah cukup layak. Kalangan lebih atas atau profesional memakai raket berlabel 1-1,5 juta Rupiah. Cukup Fair. Bandingakan dengan golf. Satu club set standar buatan China cukup 3 juta dibandingkan merk Honma yang bisa mencapai 300 juta. Atau 100 kali lipat!  Malah Kostum, sepatu dan shuttle cock bukan menjadi ajang adu brand dan trademark.

 

Nah, teman teman angkatan 81, mari kita bentuk persatuan bulutangkis kita. Bermain pada usainya waktu waktu rutin anda. Badan berkeringat, Stamina tetap fit, dan pikiran menjadi relaks. Hindarkan kecenderungan berprestasi pada usia kita di dunia bulu tangkis. Jangan terlalu di pacu jantung kita. Yang penting mengurangi asam lemak yang telah tergumpal sekian lama didalam pembuluh darah kita.

 

 

 

Category: Bulu Tangkis, Hobby  |  Tags:

Tennis

Posted by on Monday, October 3, 2011 · Leave a Comment  

 

 

Membentuk group Tennis di kalangan teman teman angkatan 81, kurang lebih mempunyai karakter yang mirip dengan perbulu tangkisan. Faktor utama adalah  tersewanya lapangan untuk mendapatkan skedul periodiknya. Pengadaan alat, kostum dan bola secara ekonomis tidak berbeda secara signifikan dengan bulu tangkis. Read More

Category: Hobby, Tennis  |  Tags:

Koleksi

Posted by on Monday, October 3, 2011 · Leave a Comment  

 

 

Banyak kalangan ternyata tetap tertarik untuk menjadi kolektor dari barang barang  yang popular di koleksi di masa lalu, seperti Koleksi Perangko, Koleksi Benda Benda Arkeolog, koleksi Kain Batik, Koleksi Keris, Koleksi Buku Buku karangan  Ir.Soekarno,dll. Bahkan dalam tingkatan yang mahal, dalam kalangan terbatas mereka mengkoleksi  Lukisan dari Pelukis terkenal , Koleksi Mobil Langka, Koleksi Motor Besar, Koleksi Batu Mulia dll.

 

Tetapi dengan perkembangan stress pekerjaan dan kompetisi hidup sehari hari yang menggila yang level nya jauh lebih tinggi dari masa lalu, koleksi bukan sekedar hobby ringan lagi. Koleksi sudah dibutuhkan lebih jauh untuk mengalihkan tekanan pada kerja otak yang tidak bisa lepas akan suatu fokus yang melekat dipikiran. Koleksi juga dapat menjadi suatu  ukuran perjalanan waktu yang tidak dibiarkan berlalu dengan sia sia bagi kolektornya. Koleksi juga bisa menjadi alat refleksi dan jati diri. Bahkan lebih jauh dapat menjadi obat peneduh dikala galau .

 

Celakanya, Pasangan Hidup diminta untuk setidaknya memaklumi bahwa sang kolektor juga mempunyai belahan hati lain. Diminta untuk tidak terlalu cemburu pada pesaingnya dalam merebut perhatian. Kecintaan sang kolektor kepada koleksinya adalah semacam refleksi kerinduan akan masa kanak kanaknya. Perlakuannya kadang sentimental. Koleksi adalah sangat  personal sifatnya. Benda yang dikoleksi tidak bisa menjadi ukuran karakter sepasang suami istri atau keluarga.

Mari kita tengok beberapa jenis koleksi yang tidak terlalu umum di masyarakat, dimana  komunitas kolektornya sangat  eksklusif.  Koleksi Fosil jutaan tahun, koleksi Miniatur Peralatan Tempur PD-II, koleksi Buku asli karangan Karl May,  koleksi Poster Iklan Tempoe Doeloe, koleksi Suiseki-batu antic. Para kolektor benda benda tadi masing masing terwadahi dalam suatu komunitas dan selalu   berusaha mencari dan berkomunikasi sesama anggota. Hasilnya adalah wawasan dan pengetahuan para anggotanya bertambah sekaligus  untuk refreshing.

 

Akan tetapi koleksi juga dapat kita buat lebih ringan dan tetap menghibur. Kita lihat misalnya koleksi Ikan Hias, koleksi Burung penyanyi, koleksi Tanaman hias Bonzai-Adenium, koleksi Hewan piaraan, koleksi  Souvenir dari hotel hotel yang pernah dikunjungi, koleksi Kaset lagu Klasik-Rohani-Sweet dll.

 

Kalau anda bertanya kepada diri sendiri, dan mendapat jawaban bahwa anda belum mempunyai benda benda semacam yang digambarkan diatas, maka sebaiknya anda mulai. Mulai dengan berdialog dengan diri sendiri tentang benda benda apa yang sekiranya meskipun kecil, murah atau bahkan remeh, tetapi kalau kita mempunyai beragam bentuk jenisnya, tentu menarik untuk di pajangkan sebagai elemen Interior rumah kita. Coba mulai dengan yang sederhana saja, berapa macam bentuk gelas yang bisa kita kumpulkan. Niscaya kemanapun kita jadi semangat karena berharap dapat temuan baru. Hidup jadi lebih berwarna. Kalau anda punya kantor atau rumah makan, tampilkan koleksi anda dalam rak yang representatif, maka sekarang benda benda remeh tersebut jadi barang berharga. Tak bisa semua orang dengan uangnya memiliki sekaligus secara instan membeli di toko manapun. Itulah keunikan ber koleksi.

Untuk itu, mari kawan, tampillah anda di group ini. Bawa  dan perlihatkan  dengan bangga koleksi anda melalui wahana  ini. Pukau teman teman dengan jati diri anda.  Kita saling bertukar pikiran dengan sesama kolektor dan sekaligus mengajak teman teman bergabung.

 

MERCEDES BENZ, type SLS – AMG, bukan mobil mewah biasa, mobil ini selain mewah, juga digunakan sebagai SAFETY CAR dalam lomba balap mobil tercepat di planet ini, F1. Siapa yang tidak tahu? Ndesooo…. .(he2). Mobil ini hanya diproduksi terbatas tas tas… cuman 100 saja untuk waktu 25 thn. Mobil ini adalah salah satu hobby edan si Anthony Gyrel, yang memang doyan ngebut. “Denger suaranya sja, saya sudah ayem, stress juga hilang, bahagia rasanya mendengar deru suara mesinnya”, itulah komentar teman kita ini.

Setelah puas mendengar suaranya, nikmat lain adalah mengelus-2 body nya, melap nya, memandanginya, dan tentu saja mengendarainya.

Mau tahu kecepatan maksimumnya? Lha yang namanya ‘Safety Car’ F1, ya jelas kecepatnnya pasti ediaann, 360 km/jam, mau coba? Dengan tenaga mesin 6.300 cc, tentu kecepatan tsb dapat dicapai dalam hitungan detik.

Category: Hobby, Koleksi  |  Tags:

Billiards

Posted by on Monday, October 3, 2011 · Leave a Comment  

 

 

Apabila teman teman pernah menjadi penggemar permainan  billiard pada masa eforia kemunculannya secara massal, yaitu sekitar kita masih di SMP, maka tak ayal kita akan melihat permainan itu dimainkan dengan gaya yang agak berbeda pada masa kini.

Agak terasa canggung rasanya bergabung dengan anak kita yang waktu menginjak SMA meminta orang tuanya bergabung ke “Pool” untuk bermain dengan sejawat sekolahnya.

 

Billiard sekarang di angkat ke kelas yang lebih relatif tinggi dibanding masa kita dulu. Atau Permainan Billiard memberi kesempatan pada berbagai segmen di masyarakat cara memaknai permainan ini. Anda dapat bermain dengan suasana hinggar binggar dengan kepulan asap rokok dan musik keras sebagai atmosfir nya.  Atau sebaliknya  anda bermain dalam suasana ruangan yang lebih eksklusif dan tenang.  Anda berada dalam gedung yang terkesan kenyamanan sebagai tempat rekreasi alternatif lebih ditonjolkan dibanding sebagai tempat ber olahraga. Kita melihat para Investor papan atas yang terjun di ranah ini, membangun ke nyamanan kepada kustomernya dengan konsep yang lain dari masa remaja kita. Jumlah perangkat meja sebanyak banyaknya bukan target utama lagi. Budget dalam penggarapan fasad bangunan bagian luar, maupun Interior ruang dalamnya, bukan asal asalan.Mereka rela membelanjakan  anggaran yang besar untuk membangun suatu  image. Image bahwa Billiard adalah permainan Eksklusif. Kita amati pemilihan size meja permainan nya. Ternyata mempunyai   standard ukuran lebih besar.  Kualitas buatannya lebih bagus , warna permukaan karpetnya tidak selalu hijau, Langgamnya bisa modern atau klasik. Bisa bergaya aristokratik. Pencatat score terlihat lebih professional. Dan yang beda secara signifikan adalah tarif biaya yang diberlakukan adalah berdasarkan jam atau lamanya pemakaian.

 

Pada masa kita bersekolah di St.Louis, tarif yang harus kita bayar didasarkan pada  jumlah koin yang kita beli. Koin koin tersebut kita butuhkan manakala kita harus mengeluarkan bola lagi setelah bola bola habis masuk kelubang. Rupanya sistem scoring  seperti itu sudah tidak popular lagi saat ini. Mungkin dianggap rugi bagi pengelolanya apabila pemainnya rata rata pemula atau pemain cakap tetapi memainkan pola permainan “mengunci” sehingga bola tidak masuk masuk kelubang. Koin koin pun tidak terlalu deras penjualannya.

 

Pada saat ini, dengan toh sistem tarif nya berdasarkan waktu, maka mereka bermain dengan pola scoring yang berbeda, yaitu mengejar suatu nilai tanpa perlu semua bola masuk kelubang untuk finish.

 

Apakah billiard masih bisa menjadi hobby yang kita rekomendasikan di group olahraga ini? Tentu !. mengapa? Yang pertama bahwa apapun sistem scoring nya, Skill atau ketrampilan bermain tetap factor utama. Teman teman pasti masih menyimpan dengan sabar truf ini sejak lama. Yang Kedua , Billiard adalah tetap olahraga yang “Fun” yang membuat kita tidak sadar jalan ber kilo kilo meter padahal hanya berputar putar mengelilingi meja. Yang Ketiga, fasilitas  yang nyaman pada tempat tempat bermain billiard pada saat ini sangat cocok dengan Usia kita  dalam berekreasi.

 

Maka teman teman para jawara pada jamannya, mari kita bermain Billiard lagi, “Let’s go to the Pool”

 

 

Category: Billiards, Hobby, Koleksi  |  Tags:

Basket Ball

Posted by on Monday, October 3, 2011 · Leave a Comment  

 

 

Peng organisasian Turnamen Bola Basket oleh Harian Jawa Post untuk anak anak kita pada saat ini, patut diberi dua acungan jempol. Bukan hanya penggarapan manajemen turnamen nya saja yang proffesional, atau kepiawaian inisiator turnamen untuk memotivasi kompetitornya yang jitu melalui media, tetapi Read More

Category: Basket Ball, Hobby  |  Tags:

Photography

Posted by on Sunday, October 2, 2011 · Leave a Comment  

 

 

Waw, rombongan para peng hobby photography tour ke Jepang hanya untuk mem foto mekarnya Bunga Sakura ? benar benar “wah” untuk pihak yang tidak terlalu dekat dengan kalangan  ini. Belum lagi lihat alat alat yang di bawa . Lensa lensa panjang dengan berbagai ukuran,  kaki kaki penyangga yang biasanya disebut tripod tersusun dalam satu koper besar. Semuanya terlihat canggih dan profesional.  Dan semuaperjalanan dan peralatan  itu di peruntukkan hanya untuk sekuntum bunga.? Sukar dan tidak mudah untuk di pahami.

 

Dulu pun tidak. Kita teringat akan ruang kecil dibawah tangga gedung sekolah kita. Biasanya  kita berlalu melewati sisi ruang itu tanpa  memberikan banyak atensi.  Kalau kita sedikit mendalami kenangan kita,  kita akan teringat pada  beberapa teman diruangan itu yang berkerumun dan di pandu aleh seseorang yang kalau tidak salah bernama Pak Yapi. Kita hanya tahu, itu ruang untuk Fotography. Ruang bagi kelompok teman teman  yang kegiatan extra kulikulernya  berhubungan dengan ruang gelap!

 

Tetapi ternyata tidak gelap untuk masa depannya.  Fotography adalah bidang yang sangat dibutuhkan pada saat ini. Bidang Visualisasi sangat membutuhkannya. Bidang bidang Periklanan, Mass Media yang berkarakter “cepat berlalu” perlu secara kontinyu untuk “reload” konten nya. Foto foto fresh dan baru  harus selalu disiapkan. Indikator lain yang bisa kita amati. Seperti piranti piranti komunikasi personal misalnya. Kita lihat saat ini, Ponsel jarang mengiklankan diri sebagai gadget yang jernih suaranya sesuai fungsi utamanya, tapi selalu dimulai dengan kualitas kameranya. Ponsel dan kamera sudah menjadi satu yang tak terpisahkan. Seolah olah menyuarakan kepada penggunanya untuk  “ambil fotonya dan bisa anda langsung kirim hasilnya tanpa melalui pos”. Tiba tiba saja semua orang yang ber ponsel ingin menjadi fotographer dan ingin di foto!. (anak sekarang menyebut “narsis”) Komunikasi “text” disandingkan setara dengan “pictures”. Orang tidak lagi repot mencatat nomor telepon di papan iklan melainkan cukup dengan memfotonya. Lebih cepat dan praktis.

Simak beberapa istilah yang di masa SMA kita belum familiar terdengar : Komunikasi Visual,  Multimedia, Croping, Graphic Design, Download-Upload, dll semua tadi bisa diartikan berhubungan dengan gambar dan foto….A Picture paints a thousand words,  ternyata benar sekali.  Masyarakat  lebih mengerti  bahwa Gambar adalah juga alat komunikasi yang effektif.

 

Lebih jauh lagi pengamatan kita , pada saat even even besar seperti International Motor Show. Berbondong bondongnya masyarakat yang datang untuk ke tempat pameran, ternyata mayoritas  bukan ingin menjadi konsumen pembeli paling cepat, tetapi mereka datang dengan membawa kamera kamera besar bak photographer profesional. Motor Show adalah arena perburuan  Obyek foto. Obyek Mobilnya atau Obyek Model yang mendampingi produknya, sama sama menarik. Termasuk didunia seni,  trend lukisan yang sekarang cenderung realis-naturalis, mengharuskan pelukisnya menjadi fotographer terlebih dahulu untuk mendapatkan obyek orisinil. Pelukisnya takut dituntut sebagai penjiplak kalau ambil obyek  dari foto di majalah, kalender atau internet, kalau kebetulan karyanya jadi terkenal.

 

Jadi kita juga lebih mengerti sekarang, mengapa  seorang  STEFANUS HANDOYO KUSUMO  (p4) yang dahulu juga ber”kantor” dibawah tangga gedung sekolah, sampai saat ini tetap menyandang predikat peng hobby fotography. Tidak seperti teman lain yang mungkin dulu peng hobby bola volley.

Teman kita satu ini akan berbicara banyak dalam forum ini, dan hendaknya bagi yang ingin ikut mengefektifkan bahasa foto sebagai alat tambahan komunikasi kita, bergegaslah bergabung.

 

 

Category: Hobby, Photography  |  Tags:

Fishing

Posted by on Thursday, August 11, 2011 · 1 Comment  

 

 

Sepertinya kita percaya bahwa para peng hobby me mancing atau mengail, tidak mempunyai kaitan langsung dengan pelakunya adalah seorang penggemar seafood. Artinya mereka pergi untuk mancing, bukan seperti  orang yang ingin mendapatkan discount yang besar di supermarket. Atau kita setuju pula bahwa seorang yang berhobby mancing , bukan seorang yang ingin mengisi sendiri aquariumnya. Kalau me mancing  bukanlah hal tentang hal yang berhubungan langsung jumlah hasil tangkapan, kita bisa mengerti,  karena itulah mereka bukan nelayan. Lalu “what is all about in fishing?”

 

Mari kita gali tentang dunia mancing ini. , Dalam legenda legenda cerita China dan Jepang, Jenderal atau Tokoh yang belum mendapat wangsit titah untuk bertugas,  mereka melewati hari hari penantiannya dengan …..pergi mancing, Bahkan dikisahkan ada yang mata pancingnya lurus! Dalam dunia olahraga , kita dibuat lebih mengerti arti kata professional setelah pegolf fenomenal Australia  Greg Norman berkata “Golf is my proffesion and Fishing is my hobby!”. Atau dapat saja seorang Pemancing Profesional dalam artian sering mengikuti kejuaran mancing manca negara, mempunyai hobby main golf.

Seorang mantan pejabat pernah mengeluh. Ia  merasa telah berbakti kepada Negara dan keluarga tanpa pamrih dan selama itu pula tetap  menerima kritikan ketidak puasan atas kinerjanya. Pada saat pensiun Ia merasa tibalah saat baginya untuk memberi hadiah kepada dirinya sendiri. Hadiah berupa pemenuhan hobby yang telah ditahan sekian lama. Ia mulai pergi mancing. .….Sang istri kemudian berkata: Tidak kah kau kasihan pada Ikannya ?

 

What’s in fishing is about silent. Kesunyian, kesenyapan, kesabaran dan pembunuh waktu. Di laut, di danau, di empang, atau kolam pancing, mempunyai ciri khas atmosfir diatas.  Bayangkan kalau ada  fasilitas mancing di dalam Pusat perbelanjaan. Akan kehilangan esensinya. Di tengah laut, tidak ada alamatnya seperti didaratan yang setiap jengkal tanahnya diupayakan tercatat secara yuridis.  Ditengah laut tidak ada petak petak kavling pemilikan pribadi. Tidak ada gambar persimpangan jalan dalam GPS kita. Kosong. Perahu yang berlayar tidak mengenal istilah jalur kiri-kanan, jalur satu arah, berhenti di traffic light dll. Ditengah laut semua serba lepas, serba lega. Tanpa kekwatiran masuk persil tetangga. Dan yang paling berkesan adalah  Jauh dari suara mobil. Jauh dari deru suara kendaraan adalah kesan pertama kita setelah mesin motor perahu kita dimatikan. Mendadak semuanya sepi. Serba sunyi.

Ternyata suara kendaraan adalah suara yang paling mendominasi dalam hidup kita, setelah itu TV. Setelah itu suara suara di lingkungan kerja kita. Pergi mancing  dengan perahu ditengah laut, mendadak suara suara itu sirna. Jangan pergi mancing dengan membawa Ipod atau portabel TV, akan kehilangan rohnya.

 

Lebih jauh tentang fishing, di Negara maju orang cenderung menyebutnya “catching”, karena kegiatan mancing sudah sangat ditunjang oleh perkembangan alat berteknologi tinggi. Alat alat itu meliputi alat  sonar pendeteksi keberadaan ikan, Bantuan satelit untuk mensuport data keadaan lokasi mancing, sampai perkembangan jenis umpan artifisial yang amat mirip aslinya. Hasil hasil riset nya  demonstrasikan dalam expo besar tahunan kaum pemancing.

 

Jadi teman teman yang berpengalaman, ajaklah dan perkenalkanlah dunia anda ke sobat sobat kita yang lain.

 

 

 

 

 

 

Category: Fishing, Hobby  |  Tags:

Sepak Bola & Futsal

Posted by on Thursday, August 11, 2011 · Leave a Comment  

 

FUTSAL

 

Mungkin rekan rekan  yang pernah setiap hari selasa sore semasa SMA rajin berkumpul dan datang ke lapangan Bogowonto, masih ingat akan momen ini. Di saat Piala Dunia 1978 tengah berlangsung, tiba tiba saja  banyak bermunculan wajah wajah baru yang tadinya tidak ikut dalam kegiatan team sepak bola sekolah kita. Yang menyolok adalah kostum yang mereka pakai , Ada yang membayangkan diri mereka  sebagai Teofilo Cubilas dari Peru, Mario Kempes dari Argentina atau  Johny Repp dari belanda. Semangat latihannya melebihi kita yang sudah lama di team. Bergairah sekali suasananya.

 

Rindu rasanya mengenang masa masa itu. Kita rata rata setiap bulannya mengagendakan kompetisi dengan sekolah sekolah  lain. Bahkan sempat pada masa itu diadakan duel antara kelompok kelas IPA melawan IPS dilapangan Makodam Brawidjaja. Siapa yang menang bukan pokok bahasan kita. Tetapi adrenalinnya masih tersisa sampai saat ini. Pengaruh Piala Dunia 1978 pula yang menginspirasi pertarungan sepak bola antar kelas pada jaman itu. Motivasi utama bukannya berupa perebutan Piala sebagai juara yang sejatinya diperjuangkan, melainkan uang hasil taruhannya. Almarhum Pak Gunarto sebagai Wali Kelas IPA-1 pada waktu itu, diakhir sesi pelajarannya yang kebetulan jam terakhir, sempat menggunakan menit menit penutup untuk mem-brief murid asuh nya tentang strategi yang jitu untuk memenangkan pertandingan. Pak Gunarto tahu bahwa selepas sekolah, murid yang diketuai sdr Witarmin ini akan menuju lapangan Bogowonto untuk menghadapi kelas lain. Kita masih ingat tentang materinya, tetapi kita tidak perlu membocorkan rahasia itu di forum ini. Biarlah itu tetap menjadi rahasia teman teman IPA-1, karena resepnya ternyata manjur.

 

Kenapa itu harus berlalu? Piala dunia tetap ada setiap 4 tahun. Piala Eropa 2 tahun setelahnya.  TV kita  setiap pekan menayangkannya secara  langsung. Teman teman IPS 1 paling banyak menyumbangakan rekannya  sebagai  anggota team kita saat itu. Bahkan ada beberapa kakak kelas kita yang sejaman sebagai team, masih menjadikan sepak bola tetap sebagai sarana penjaga kebugaran.

 

Sepak bola bukan olah raga ringan, bukan size kita lagi untuk memainkan. Amat berbahaya bagi jantung kita, terutama kalau harus memompa sesuai kemauan kita untuk menjaga wilayah permainan yang mencakup luas area 1 hektar itu. Terlalu riskan untuk bernafsu menjebol gawang lawan walau kesempatan ada jika  kita kejar bola liar yang muntah dari keeper lawan. Hindari ini.

 

Adalah sesuatu yang menyentak ketika anak kita, yang tahu kita bermain sepakbola waktu SMA, meminta kita untuk bermain sebagai team orang tua melawan guru gurunya. Wah apakah kita punya stamina untuk berlari lari setelah sekian lama berkendara mobil walau hanya untuk ke Mimi Market didalam perumahan.  Tetapi  ternyata melegakan setelah tahu bahwa ternyata kita bermain di lapangan mini. Tidak terlalu menakutkan wajah lapangannya. Tampak ramah lebar lapangan dan gawangnya. Ada jaring tinggi yang mengelilingi  batas  pinggirnya. Lalu kita telusuri lebih dekat, ternyata Aturan main, jumlah pemain, jenis sepatu, jenis bola dll sudah disesuaikan dengan ke mini annya. Indoor lagi……ada atap diatas kita. Cuaca panas dan hujan yang dulu bukan halangan, sudah dapat di eliminir jadi kondisi stabil dan sejuk.

 

Yang Bermain eh segala usia. Kita mengira pastilah pemainnya adalah bapak bapak yang berusaha tetap berwajah ganteng tapi tidak bisa menyembunyikan perut yang menonjol kedepan. Fenomena apa ini? Ternyata Futsal  bukan untuk orang yang sudah di afkir di persepakbolaan.

Kita juga melihat di TV, Pertandingan pertandingan Futsal Internasional  di ESPN dengan pemain remaja! Dan dalam salah satu tayangannya, Remaja Vietnam menghajar remaja Jerman dengan telak  8-0. Hal yang tidak waras terjadi kalau di persepakbolaan maxi….. Ternyata Futsal adalah olahraga formal, bukan sidekick. Futsal adalah sepakbola versi lain yang tetap  dalam naungan FIFA. Bahkan lengkap dengan kalender turnamen internasional.

 

Kesimpulannya, Futsal adalah sepakbola perkotaan. Sepakbola yang nyaman karena indoor, Spakbola yang irit luasan, irit pula pengumpulan anggotanya untuk bisa bermain. Hanya butuh 5 orang dalam satu team, dan tetap dapat mengobati kerinduan akan bermain sepakbola. Mari teman kita bermain lagi!

 

 

Category: Futsal & Soccer, Hobby  |  Tags:

Golf

Posted by on Thursday, August 11, 2011 · 1 Comment  

 

 

Pernahkan anda mengenal pepatah “Be serious in Golf cause life is a game!”.

Golf adalah permainan yang benar benar individu. Tidak ada rival atau lawan. Anda dapat datang kelapangan berlatih memukul bola (driving) atau main 9-18 hole, soliter alias sendiri. Dalam kompetisinya, orang yang bermain buruk bisa menang karena lawan lebih buruk, atau sebaliknya orang bermain bagus bisa kalah. Permainan yang tidak memperdulikan posisi lawan. We play our own Game.

Permainan Golf  membutuhkan konsentrasi yang sangat tinggi yang konon melebihi pekerjaan. Sampai sampai ada rekan yang mengatakan bahwa Golf berbahaya bagi Mata……. (Mata Pencaharian maksudnya). Tak jarang setelah bermain, Justru hati menjadi lebih kesal karena marah kepada diri sendiri ….. Lalu keputusan yang diambil bisa lebih berbahaya, Besok pagi kembali lagi, dan bermain lebih bagus!

Bahkan ada artikel yang menyaranan pasangan kekasih atau suami istri jangan main bersama. Karena dikala pasangannya bermain buruk, bisa bisa menjadi sasaran sebagai biang penyebabnya.

 

Lalu dimana asyiknya? Mengapa harus main golf? ………..Golf tidak memacu jantung seperti olahraga yang mempunyai lawan atau rival. Menjadi seorang Pegolf adalah menjadi seorang yang siap dan biasa bangun jam 4 pagi. Hari akan terasa jauh  lebih panjang bagi yang rutin menjalaninya.  Bentangan lapangan rumput luas dan hijau berembun serta  hawa yang bersih dan sejuk  adalah sarapan jiwa raga yang menenangkan dan dirindukan.

 

Apakah Mahal untuk aktif di sini ? tidak!, …….lalu mengapa sering dikatakan elite? ………Ya kalau kita melakukannya demi  jati diri, gengsi atau pride. Bukan fungsi  dari olah raganya yang kita cari. Ibarat tas tangan wanita khan?, bisa fungsi, bisa jati diri. Tapi dengan golf, kita pasti akan mengenal lebih dalam tentang diri kita sendiri. Apakah kita pemarah, suka menyalahkan orang lain, mengumpat angin, atau membanting peralatan ketika kita bermain buruk. Apalagi kalau menyangkut kejujuran, Golf adalah Gentlemen Game. Seorang Bobby Jones tidak menjadi juara US Open karena mengaku tongkatnya menyentuh bola sebelum dipukul. Padahal pihak juri dan spektator tidak ada yang merasa melihatnya. Dia hanya kalah satu stroke pukulan….. Tetapi kalau kita mau dan suka cheatting, golf surganya.

 

Ada pegolf professional wanita dari Phiilipina, yaitu Jennifer Rosales yang sejarah tertariknya  pertama kali untuk bermain golf karena mendengar orang disekitarnya melontarkan kata yang asing baginya, Birdie, Boogey, Par…….apakah asing pula bagi anda?  kalau ya, ayo datang ke lapangan.

 

Belum lagi koleksi koleksi filosofinya. Seperti yang ini misalnya, “How can you expect a different result if you always did it in the same way”. Kedengarannya sebagai kata kata yang sangat bijak dan luas artinya. Padahal itu diterapkan kalau bola kita tidak keluar keluar dari bungker pasir.

 

Untuk itu sobat sobat angkatan 81, tidak ada salahnya kalau anda mencoba. Anda Enggan  atau segan untuk bergabung ? Tak perlu, karena ada  koordinator yaitu Sdr. BUDI SUWANDHA  (p1) yang tak lain adalah teman  kita sendiri yang akan membimbing kita.

 

Category: Golf, Hobby  |  Tags:

Music

Posted by on Saturday, August 6, 2011 · Leave a Comment  

 

 

 

 

Siang tgl 10 juli 2011 di pelataran tengah gedung sekolah Smak St.Louis, kita tersentak dengan dinyanyikannya secara duet lagu Endless Love (Diana Ross-Lionel Richie) dan I Still Got the Blues (Gary Moore). Sungguh piawai teman kita dalam melantunkannya, Sungguh sungguh bisa tertanam di memori kita. Sangat besar hasrat  kita untuk mengulang suasananya,  …….used to be so easy.

 

Terimakasih kepada sdr Lingga Wang (p3) dan nyonya Johanes Kwa (s1) sebagai pelantun yang jempolan… It was so long ago… ketika kita masih remaja mengisi hari hari kita dengan mendengarkan music dan mendiskusikannya dengan teman kita disekolah. Kita selalu update dengan lagu lagu yang popular. Musik ternyata adalah salah satu penanda waktu yang ampuh. Dengan lagu kita dengan mudah mengingat masa masa ketika mendendangkannya. Kalau kita mendengar kan radio di mobil kita terutama dari channel khusus lagu lagu oldies, maka setiap lagu yang kita kenali, otomatis mengingatkan kita pada momen yang kita alami di saat saat kita menggandrungi lagu tersebut.contoh I Love You This Much nya -  Maggie McNeal adalah penanda waktu kita di  SMP. Setiap hari banyak stasiun radio swasta memutarnya.

 

Atau Musik juga sebagai penanda tentang suatu kegundahan seperti  Lagu Time After Time dari  Cindy Lauper sangat cocok  dilantunkan dalam peringatan Peristiwa Operasi Market Garden  yang menggambarkan penyesalan atas  gugurnya ribuan tentara sekutu di Belanda tahun 1944 akibat salah urus yang fatal, atau Where have all the Flowers Gone tentang kesia siaan hilangnya nyawa remaja remaja yang berangkat ke medan perang, atau  Hotel California tentang kelamnya Dunia Prostitusi. Tentang beratnya menikah di usia muda oleh Hollies, atau Paul kesal dengan rekannya yang selalu meninggalkan  anaknya si Julian sendirian, dalam Hey Jude.dll.

 

Tetapi sungguh ada yang menakutkan setelah berjalan sekian lama sejak meningalkan bangku sekolah. Kemana perginya musik musik kita ? Mengapa  kita minim sekali membicarakan lagu. Bagaimana Topik bahasan Tentang Pelantun Lagu bisa bergeser dari kualitas suara nya menjadi bahasan di sisi Gossip sekelas Infotainment.  Mengapa tatkala kita menyimak chatting teman teman sebaya kita, mereka tidak menyinggung peneduh jiwa itu?

Pernah kita diajarkan bahwa orang yang tidak suka musik cenderung jahat.  Cenderung tidak berperasaan dan berdarah dingin. Apa kita telah menjadi monster sekarang?  ….There’s an emty space ….. didalam hati kita.

 

Semoga  tidak terlalu tinggi apabila kita berangan angan memiliki suasana tgl 10 juli siang itu berulang dan berulang. Kita jadikan segala nya menjadi mungkin. Kita apresiasi mereka yang mampu dan mau mempelopori untuk mengadakan music gathering secara periodik. Kita ingin lebih manusiawi kembali. Kita perkecil porsi The Dark Side didalam pikiran kita.

 

Kita mungkin dapat memulainya dengan ber karaoke. Sebuah temuan dahsyat yang tak terpikirkan oleh bangsa bangsa yang melahirkan maestro musik. Dengan karaoke kita dibuat untuk tidak canggung menyanyi. Sering menyanyi dengan teknik karaoke dapat meningkatkan rasa percaya diri seseorang untuk menyanyi dan tampil didepan publik.  Apalagi kalau karaokenya dilakukan bersama sama di rumah teman yang punya fasilitas ini.Lebih menghilangkan rasa canggung. Setelah itu kita tingkatkan dengan mengajak teman teman yang mempunyai kemampuan bermain musik ditambah yang suka menyanyi akan menjadi pelopor disini. Teman teman yang ingin berpartisipasi kita harap dukungannya  dengan hadir pada acara acara yang di prakarsai. Kita akan membuat suatu konsep yang merupakan gabungan sebuah karaoke dan konser terbatas dikalangan sendiri.

 

Mari kita mulai kawan, kita bangun idealisme ini. Musik adalah bahasa universal. Tetaplah  optimis bahwa ini akan berlangsung pada waktunya . Biarlah masa remaja kita telah berlalu , Tetapi tidak untuk spirit warisannya. Pasti masih ada yang tertinggal dari masa remaja kita yang masih potensial untuk tetap bisa kita nikmati. Seperti yang dikatakan almarhum Gary Moore…..…… I still got the blues for you.

 

 

 

 

Category: Hobby, Karaoke  |  Tags: