Photography

 

 

Waw, rombongan para peng hobby photography tour ke Jepang hanya untuk mem foto mekarnya Bunga Sakura ? benar benar “wah” untuk pihak yang tidak terlalu dekat dengan kalangan  ini. Belum lagi lihat alat alat yang di bawa . Lensa lensa panjang dengan berbagai ukuran,  kaki kaki penyangga yang biasanya disebut tripod tersusun dalam satu koper besar. Semuanya terlihat canggih dan profesional.  Dan semuaperjalanan dan peralatan  itu di peruntukkan hanya untuk sekuntum bunga.? Sukar dan tidak mudah untuk di pahami.

 

Dulu pun tidak. Kita teringat akan ruang kecil dibawah tangga gedung sekolah kita. Biasanya  kita berlalu melewati sisi ruang itu tanpa  memberikan banyak atensi.  Kalau kita sedikit mendalami kenangan kita,  kita akan teringat pada  beberapa teman diruangan itu yang berkerumun dan di pandu aleh seseorang yang kalau tidak salah bernama Pak Yapi. Kita hanya tahu, itu ruang untuk Fotography. Ruang bagi kelompok teman teman  yang kegiatan extra kulikulernya  berhubungan dengan ruang gelap!

 

Tetapi ternyata tidak gelap untuk masa depannya.  Fotography adalah bidang yang sangat dibutuhkan pada saat ini. Bidang Visualisasi sangat membutuhkannya. Bidang bidang Periklanan, Mass Media yang berkarakter “cepat berlalu” perlu secara kontinyu untuk “reload” konten nya. Foto foto fresh dan baru  harus selalu disiapkan. Indikator lain yang bisa kita amati. Seperti piranti piranti komunikasi personal misalnya. Kita lihat saat ini, Ponsel jarang mengiklankan diri sebagai gadget yang jernih suaranya sesuai fungsi utamanya, tapi selalu dimulai dengan kualitas kameranya. Ponsel dan kamera sudah menjadi satu yang tak terpisahkan. Seolah olah menyuarakan kepada penggunanya untuk  “ambil fotonya dan bisa anda langsung kirim hasilnya tanpa melalui pos”. Tiba tiba saja semua orang yang ber ponsel ingin menjadi fotographer dan ingin di foto!. (anak sekarang menyebut “narsis”) Komunikasi “text” disandingkan setara dengan “pictures”. Orang tidak lagi repot mencatat nomor telepon di papan iklan melainkan cukup dengan memfotonya. Lebih cepat dan praktis.

Simak beberapa istilah yang di masa SMA kita belum familiar terdengar : Komunikasi Visual,  Multimedia, Croping, Graphic Design, Download-Upload, dll semua tadi bisa diartikan berhubungan dengan gambar dan foto….A Picture paints a thousand words,  ternyata benar sekali.  Masyarakat  lebih mengerti  bahwa Gambar adalah juga alat komunikasi yang effektif.

 

Lebih jauh lagi pengamatan kita , pada saat even even besar seperti International Motor Show. Berbondong bondongnya masyarakat yang datang untuk ke tempat pameran, ternyata mayoritas  bukan ingin menjadi konsumen pembeli paling cepat, tetapi mereka datang dengan membawa kamera kamera besar bak photographer profesional. Motor Show adalah arena perburuan  Obyek foto. Obyek Mobilnya atau Obyek Model yang mendampingi produknya, sama sama menarik. Termasuk didunia seni,  trend lukisan yang sekarang cenderung realis-naturalis, mengharuskan pelukisnya menjadi fotographer terlebih dahulu untuk mendapatkan obyek orisinil. Pelukisnya takut dituntut sebagai penjiplak kalau ambil obyek  dari foto di majalah, kalender atau internet, kalau kebetulan karyanya jadi terkenal.

 

Jadi kita juga lebih mengerti sekarang, mengapa  seorang  STEFANUS HANDOYO KUSUMO  (p4) yang dahulu juga ber”kantor” dibawah tangga gedung sekolah, sampai saat ini tetap menyandang predikat peng hobby fotography. Tidak seperti teman lain yang mungkin dulu peng hobby bola volley.

Teman kita satu ini akan berbicara banyak dalam forum ini, dan hendaknya bagi yang ingin ikut mengefektifkan bahasa foto sebagai alat tambahan komunikasi kita, bergegaslah bergabung.

 

 

Category: Hobby, Photography  |  Tags: