LAPORAN KEUANGAN PERIODE 01 JANUARI -31 DESEMBER 2016

31 dec 2016 small

Category: Headline di Home, Uncategorized  |  Tags:

POST buku kenangan

 

 

Category: Uncategorized  |  Tags:

THE ‘E’ DAY ……… The Forkom “Election Day”

 


THE “E” Day ..The Forkom “Election Day”

SMS – WEBSITE

Kami mohon maaf kepada rekan rekan Alumni 81 karena dalam 2 minggu terakhir menjelang voting Pemilihan Ketua FORKOM, kami telah menghujani Ponsel anda dengan SMS lebih dari sepuluh kali, yang isinya tentang himbauan yang kurang lebih senada. Berpartisipasi lah di Pemilihan Ketua, dan Sign In di Web kita

Pertambangan

Posted by on Monday, October 24, 2011 · Leave a Comment  

Apabila teman teman di komunitas ini bergerak disektor Eksplorasi  Komoditi Barang Tambang seperti  Batu Bara, Timah, Migas, Biji Besi, dll  di seluruh Indonesia, maka anda termasuk orang patut dipuji keberanian nya. Menggerakkan sektor riil yang penuh resiko dengan minim dukungan adalah menunjukkan anda punya nyali. Kami mewadahi potensi anda melaui forum ini untuk saling bertukar pikiran.

 

Sektor tambang di negara kita adalah sektor yang kurang di dukung Perbankan. Terlalu beresiko dari sudut pandang kelayakan usaha. Perbankan saat ini memilih untuk meninggalkan sepertiga kapasitas kreditnya stagnan dari pada mendukung sektor ini. Pertambangn memiliki banyak kendala mulai dari perijinan yang sangat birokratis, minimnya  dukungan Infrastruktur Paska Penambangan, belum majunya Piranti Lunak maupun Teknologi Peralatan Penambangan, belum tervalidasi nya nilai riil hasil tambang ditambah belum ada Pengembangan Produk dan  Regulasi yang tegas tentang Nilai Tambah Komoditi ini terhadap  kebutuhan ekspor.

 

Australia adalah tempat belajar yang baik untuk sektor ini. Negara tetangga kita itu  merupakan negara terbesar ke tiga didunia di Sektor Pertambangan. Negara berada pada posisi yang mendukung untuk menghilangkan hambatan seperti yang ada pada kita. Perijinan adalah riil terutama menyangkut Penanggulangan Dampak Kerusakan Lingkungan. Negara dan Perbankan mendukung ekspansi kenegara lain. Infra struktur untuk mendukung maksimalnya Transportasi Hasil Tambang, sangat mengagumkan. Bahkan 60% Teknologi Piranti Lunak Pertambangan Dunia, menggunakan Produk  Australia. Kita lihat dari gigihnya negara ini untuk masuk berinvestasi di negara kita melalui 400 an perusahaan nya yang berhubungan dengan Pertambangan di Indonesia. Total Expor yang dilakukan dari hasil kerja sama perusahaan Aussie ini dan  pemerintah kita mencapai AUD 50 M-an

 

Pertambangan yang lagi banyak diminati karena mulai bergesarnya pasokan energi yang mengandalkan Minyak, adalah Batu Bara. Fosil yang berasal dari tumbuhan ini merupakan sumber energi ke dua setelah Minyak dengan persentasi 26 %.  Porsinya cenderung meningkat karena di perkirakan cadangan batu bara masih bisa di explorasi sampai 133 tahun kedepan dibanding minyak yang  diperkirakan maksimun hanya 60 tahun. Produksi Batu Bara di Indonesia mencapai 225 juta ton pertahun dan dalam posisi menuju 280 juta ton. Batu bara di proteksi oleh pemerintah untuk menjaga pasokan energi Pembangkit Tenaga Listrik kita.

 

Bagaimana prospek expornya?  Tentu meningkat. Amerika,Rusia, China, Australia dan India  adalah lima negara terbesar yang memiliki cadangan batu bara dunia. Kelima negara tersebut berkonstribusi terhadap lebih dari 80 %  produksi batu bara dunia. Tetapi mereka mereka adalah konsumen pemakai terbesar pula. China hampir menggunakan separuh produksinya untuk dalam negeri, bahkan sebagian mengimpor. Hal hal menarik akan kita jumpai apabila kita telaah lebih mendalam lagi. Untuk itu  marilah kita lanjutkan perbincangan kita melalui forum ini. Forum teman teman yang tergabung dalam komunitas Alumni Angkatan 81 Smak St.Louis

Category: Uncategorized  |  Tags:

Kuliner

Posted by on Monday, October 24, 2011 · Leave a Comment  

Para Insan Alumni yang bergerak Bisnis Makanan, yang sehari harinya ber kecimpung dengan wilayah Konsumsi, mereka mereka yang memiliki  Rumah Makan, Pemilik atau pembeli Waralaba Makanan, Pemasok Bahan Makanan, Catering, dll, mari melepaskan diri dari kejenuhan dengan bercengkerama di wahana ini

 

Perkembangan cara hidup di kota kota besar Indonesia ternyata menjauhkan insannya dari ruang Dapur. Desakan pemenuhan ekonomi dan kesetaraan jender menyebabkan wanita berpendidikan tinggi dan berkarir,  Akibatnya, peranan Istri sebagai belahan jiwa Suami atau peranan sebagai Ibu yang telapak kakinya merupakan penentu  Surga bagi Anak Anaknya, sedikit tergerus. Istri atau Ibu yang  senantiasa diharapkan menyiapkan makan bagi anggota Keluarga dirumah, tidak diartikan lagi sebagai  seorang yang berkemampuan seperti Koki  yang setiap hari pergi ke dapur dan masak!…………lalu siapa yang di dapur?

Peranan Pembantu sebagai Tukang Masak di rumahpun mulai terdegradasi secara drastis. Supply nya mulai langka, dimulai tidak adanya sekolah untuk menjadi PRT secara Formal sampai yang terbang ke manca negara dengan label TKW.

Pengadaan makanan sehat  sehari hari di dalam rumah adalah masalah pelik!

 

Kita amati pada akhir pekan di Pusat pusat Perbelanjaan. Orang orang akan datang lebih awal karena berebut space parkir. Tetapi ketika kita tengok didalam, mereka tidak berkerumun di toko Pakaian, Sepatu, Arloji, Telepon Selular dll. Merekapun  pulang tanpa berondongan tas tas belanjaan. Mayoritas mereka datang adalah ber rekreasi Kuliner. Food hall lah area yang berjubel. Beberapa Mall telah tanggap dan mempunyai porsentasi Areal Makanan yang lebih dominan. Suatu pergeseran konsep.  Makan di Restauran yang dahulunya suatu bentuk “hadiah”, sesuatu yang spesial, sesuatu yang eksklusif, saat ini merupakan aktifitas “biasa” yang bisa dikerjakan 3 kali sehari. Sarapan  Soto selepas Jogging, makan siang dari Catering Kantor dan makan malam dengan rekan di Cafe sambil menunggu lalu lintas lebih longgar dari kemacetan.

 

Rachel Ray adalah seorang host acara masak memasak dengan predikat Koki terkaya di dunia dengan penghasilan 18 juta USD setahun. Ia adalah sample akan insan yang jeli memasuki ranah Talk Show mix dengan Kuliner. Kita ingat yang klasik,  Harland David Sanders atau lebih dikenal Colonel Sanders dengan KFC yang mendunia, Zong Qing Hou mempunyai kekayaan lebih dari USD10 Milyar  dari usaha minuman ringan dengan merk yang terdengar lucu,Wahaha. Di dalam negeri, jargon seperti Ikan Bakar Cianjur, Martabak Holland, Es Teller 77, Sari Ratu, Wong Solo, Bakmi GM, menyusul seperti Tekko dll adalah nama lokal yang telah dan dapat mengemuka ke kancah nasional.   Mungkin unggulan lokal seperti Nasi Udang Bu Rudi, Babi Guling Bu Oka-Ubud, Warung Wardhani di Denpasar dll bisa menjadi Brand Nasional suatu hari kelak.

 

Kami ingin melihat pula bahwa suatu hari, potensi besar dari bisnis kuliner ini bisa menghantarkan teman teman alumni kita dengan merk lokal namun  berkibar didunia Internasional.  Suatu impian kesetaraan seperti Jawara Internasional yang merambah didalam negeri kita. Mc.Donald, Pizza Hut, Hoka Hoka Bento, Dunkin Donnut, Coca Cola dll.

 

Category: Uncategorized  |  Tags:

Perbankan – Finansial

Posted by on Monday, October 24, 2011 · Leave a Comment  

Teman teman alumni Smak St.Louis yang Memiliki, atau Bekerja, atau sebagai Analis dan Pengamat Sektor Perbankan dan Finansial termasuk Berkiprah dalam bisnis yang berhubungan dengan Saham saham, Prospektus, sekuritas, mari terangi pikiran dengan sektor yang mempunyai kapitalisai terbesar di dunia ini.

 

Kwik Kian Gie menjelaskan di TV di saat terjadi  krisis Perbankan di tahun 90 an, bahwa Bank adalah “Jantung” Ekonomi. Ia menyerap darah atau dalam hal ini uang yang ada dimasyarakat sebagai tabungan dan memompanya kembali kemasyarakat sebagai Kredit atau Pinjaman. Apabila Bank tidak melakoni kodrat nya ini, maka akan terjadi distorsi ekonomi. Krisis ’98 kita salah satunya karena Bank menyalurkan kreditnya ke group sendiri untuk berspekulasi di Properti.

Salah satu faktor yang telah menekan kita untuk menyempitkan kemungkinan itu terjadi lagi pada Perbankan kita,  adalah IMF dengan LOI nya. Kasus Bank Century 2008 yang merupakan efek dari krisis global, ternyata dapat diredam untuk tidak menjadi menyebar dan berdampak sistemik.

 

Disisi Internasional, Kita terkejut karena perdagangan terbesar di muka bumi ini adalah perdagangan alat belanja itu sendiri. Perdagangan uang. Total Portofolio Kekayaan sekitar 10.000 orang terkaya didunia mencapai USD 500 Trilyun atau 1000 kali lipat PDB Indonesia. Seluruh Property di dunia hanya ditaksir sekitar USD 75 Trilyun. Artinya jumlah nilai kekayaan perorangan melebihi komoditi riil didunia yang bisa di beli. Termasuk  uang Dollar Amerika yang berupa Uang kertas, Simpanan di Bank dan Kertas Berharga, yang bersirkulasi di luar Amerika, diperkirakan  mencapai nilai 8 trilyun-an. Lebih dari dua kali lipat nilai jumlah emas yang telah pernah  tertambang .  Jadi logikanya  uang Dollar itu sudah keluar dari konsep awalnya. Uang Dollar sejatinya adalah cek pengganti transaksi yang sejarahnya  dilakukan dengan emas. Kini sudah tidak ada berita lagi tentang jumlah emas di Fort Knox, seharusnya berbanding lurus dengan pencetakan lembaran lembaran uang Dollar itu oleh The Fed. It’s just a Printed Money.

 

Dunia seperti dihantui Bom Waktu krisis kepercayaan pada kejatuhan nilai uang. Banyak yang ingin kembali menjadikan emas sebagai Portofolio, sampai sampai Nilai Emas melonjak dan mencapai harga puncaknya yang tertinggi dalam sejarahnya di bulan September tahun ini (2011). Bukan Sektor Riil yang dianggap bakal biang pemicunya. Tetapi Pelaku Ekonomi  takut akan keruntuhan kepercayaan  yang dapat berefek domino secara sekejap. Dunia setiap hari dibayangi  mimpi buruk kejatuhan ekonomi Eropa karena kontradiksi dari awal  lahirnya Uni Eropah. Negara yang cenderung boros seperti Yunani mempunyai mata uang yang sama dengan Negara Jerman yang rajin menabung. Efek gagal bayar dari satu bank besar bisa berakibat runtuhnya  sistem Perbankan seluruh dunia yang rentan dan tertaut secara global.

 

Diskusi ini mengajak kita berpikir apa tidak sebaiknya kita lebih konservartif dalam pengelolaan keuangan. Kembali kepada nilai nilai bahwa uang adalah alat tukar untuk belanja, bukan komodity derivatif. Nasehat lama “Jangan lebih besar pasak dari pada tiang” kita ikuti. Kalau bisa jangan  menggunakan Hutang sebagai instrumen utama Dana Pembangunan kita. Kita membutuhkan lebih banyak tuntunan tulus dari teman teman yang menggeluti sektor ini. Kita menharap kolom ini bisa aktif memonitor pergerakan situasi yang cenderung berubah cepat.

Category: Uncategorized  |  Tags:

Perdagangan – Jasa

Posted by on Monday, October 24, 2011 · Leave a Comment  

Bergabunglah teman teman yang berlaku sebagai Distributor, Dealer, Importir, pemilik Fasilitas Perbelanjaan, Pemilik Toko, bergerak di bidang penjualan dan jasa di bidang IT, Informasi, Mass Media, atau di Sektor Jasa Konstruksi, Biro perjalanan, dan jasa jasa lain. Mari kita bangun forum komunikasi yang konstruktif di bidang ini.

 

Perdagangan dan Jasa juga di kategorikan Sektor Riil. Sektor yang menggerakkan Ekonomi….Sektor Perdagangan dan Jasa sebenarnya perpanjangan dari sektor Industri. Sektor yang dapat memasarkan hasil hasil produksi bangsanya baik di dalam negeri maupun ke kancah Internasional. Akan tetapi,  suatu bangsa dengan Penduduk yang Padat dan Daratan yang luas serta kaya Sumber Alam,  selayaknya Ekonominya bertumpu lebih dahulu pada sektor Perkebunan dan Industrinya.  Sektor yang menyerap  Mineral  dan menyerap banyak Tenaga Kerja. Untuk Negeri kita, Sektor Perdagangan dan Jasa bukanlah sebagai Pilar Ekonomi di Garis Depan.

Negara seperti Singapura adalah contoh ideal negara yang sukses dengan bertumpu pada sektor Perdagangan dan Jasa. Apabila Negara kita dengan penduduk yang setidaknya 50 kali lebih masif dan daratan 250 kali lebih luas, maka selayaknyalah  Kapal Kapal Kontainer Terbesar di dunia berlabuh di Pelabuhan Pelabuhan kita. Bukan di Singapura.

 

Tapi tidak demikian adanya, Pelabuhan Singapura jauh lebih besar, lebih sibuk dan manajemennya  yang lebih efektif   dibandingkan dengan pelabuhan pelabuhan kita. Komoditi  Dunia, memilih menggunakan Jasa Transito barangnya di negara yang tidak lebih besar dari 1/7 luas pulau Madura itu. Dalam sisi Perdagangan, kita kalah bersaing dalam menjadi Agency dari bermacam macam produk. RIM sampai ditekan oleh Menkominfo kita agar membuka Pusat Pelayanan Purna Jual di Indonesia. Ketika BlackBerry kita bermasalah tidak di  Singapura rujukannya. Kelengkapan toko toko di Singapura sangat memanjakan Konsumennya. Belum lagi diperkuat sektor Pendidikan, sektor  Medis sampai ke bidang Seni  pun  Devisa kita harus melayangt ke Negeri Tetangga itu. Pariwisata kita belum boleh dikatakan lebih unggul….. Subyek kita bukan lah Perasaan Iri Hati,  tetapi cerminan untuk evaluasi diri.

 

Kita ingat ketika Pemerintah Singapura merilis data lebih dari 42 Miliar USD atau sekitar 1/3 besaran cadangan devisa kita, merupakan  simpanan warga kita di Sistem Jasa Perbankannya. Kembali kita komparasi, Warga dari negara dengan luas 190 ribuan km2 menyimpan uangnya dinegara yang luasnya tak lebih dari 700 km2 karena dianggap lebih kredibel keamanannya. Pokok telaah an kita adalah betapa Sumber Daya Manusia merupakan Faktor Utama di bidang Perdagangan dan Jasa. Bukan keunggulan Besar wilayah dan Jumlah Penduduk apabila kita ingin berkibar di bidang ini.

 

Untuk itu kawan kawan yang ada di rubrik ini, mari kita bangun sunber daya manusia kita. Kerahkan energi dan kemampuan kita, dengan skala sekecil apapun selama arah telah kita yakini, maka niscaya akan terjadi perbaikan.

 

 

Category: Uncategorized  |  Tags:

Industri

Posted by on Monday, October 24, 2011 · Leave a Comment  

 

Kolom ini mewadahi komunikasi teman teman yang bergerak di sektor manufaktur, yang memiliki perangkat produksi, yang melibatkan dan memperkerjakan tenaga terampil , yang secara sederhana kita sebut  mempunyai pabrik untuk pembuatan, pengolahan atau perakitan produk benda benda ekonomi, baik dari skala industri Rumah Tangga sampai skala raksasa.

 

Dalam bahasan Ekonomi Makro, Industri adalah  Sektor Riil. Sektor yang secara mendasar memenuhi kebutuhan yang ada di bagian terbawah Piramida Maslow.  Bukan sektor pemenuhan Jati diri atau Gaya Hidup yang abstrak wujudnya, melainkan produk yang kasat Panca Indera kita. Sektor inilah yang akhir akhir ini kembali di unggulkan, Sektor yang kembali ke Fitrah Ekonomi Dasar.  Sektor yang harusnya menjadi Pilar Ekonomi suatu Negara. Khususnya  belajar dari Krisis Ekonomi Dunia yang justru datang dan bermula dari negara negara maju. Negara Barat sebagai pelopor Industri Modern.

 

Negara negara barat telah lama meninggalkan era gelombang kedua nya Alvin Toffler yaitu Revolusi Industri. Negara negara Eropa Barat dan Amerika Serikat dll.  telah lama dimanja dengan kekuatan ekonominya dan  menyandarkan Benua lain untuk mensupply kebutuhan sehari harinya. Mulai Garmen, Sepatu, Furniture, Peralatan Rumah Tangga, bahkan Elektronik. Mereka bahkan banyak mendirikan pabrik pabrik perakitan sampai ke Asia, demi tenaga kerja yang lebih murah. Lalu apa kegiatan utama mereka yang berada di dunia maju?

 

Ekonomi mereka bertumpu pada Sektor Finansial,  Obligasi,  Surat surat Berharga dan sejenisnya yang sifatnya Virtual dan Derivatif. Perusahaan perusahaan raksasa  mereka bukan lagi Pabrik Pabrik Manufaktur, akan tetapi berupa  Lembaga lembaga Keuangan. Seperti Perbankan, Asuransi, Sekuritas, Portofolio, dll. Simak nama nama AIG, Citigroup, Merrill Lynch, Goldman Sachs, Lehman Brothers, Fannie Mae, Freddie Mac, JP.Morgan dll. Nama nama besar tadi yang justru kemudian menghujamkan Ekonomi Dunia di tahun 2008 dengan Subprime Mortgage sebagai pemicunya. Asia tidak terlalu terseret karena telah belajar dari keterpurukan yang mendaratkan ekonomi nya hingga ke tingkat dasar ditahun tahun 1997-98.

 

Lebih aktual lagi,  Kelompok Negara Negara yang di istilahkan sebagai PIIGS (Portugal, Italia, Irlandia, Yunani, Spanyol) ternyata berulah dengan timbunan hutang menggunung yang memaksa German sebagai negara terkaya di kawasan,  harus rela melepas cadangannya untuk menstabilkan mata uang Euro. PIIGS sebenarnya bukanlah negara negara yang  terkenal unggul akan produk produk riilnya, akan tetapi nilai devisitnya sangat  fantastis. Yunani mencapai 400 an  miliar Euro atau  bahkan Italia tercatat diatas 1000 an miliar Euro. (Indonesia sekitar 80 an milliar Euro)

Bertolak belakang dengan negara China yang dianggap selalu merendahkan nilai mata uang Remimbi nya (entah karena keunggulan sektor produksi manufaktur nya yang berorientasi ekspor), mempunyai tabungan devisa mencapai 3000 an  miliar USD dan membeli sedikitnya 24 % dari obligasi yang diterbitkan Pemerintah Amerika Serikat. Hal yang mem buat Presiden Obama sampai mengkampanyekan  untuk kembali ke kejayaan  produk produk berlabel “Made in America”.  Setidaknya untuk barang barang yang di jual di Wall Mart  di Bumi Amerika sendiri. Akibat ketergantungan berat akan barang Impor, Pengangguran Justru Issue utama yang menerpa Pemerintahan Presiden Obama.

 

Cara pandang diatas adalah cara pandang kita terhadap teman teman yang hidup dan berjaya di sektor Industri ini. Baik sektor Garmen, Sepatu, Elektronik, Bahan Kimia, Bahan bangunan dll yang masih setiap akhir minggu nya membagi berkah  secara tunai  kepada tenaga kerjanya. Patutlah kita angkat topi. Mereka adalah sektor riil sejati. Sektor yang memutar roda ekonomi dan menyerap tenaga kerja.

 

Category: Uncategorized  |  Tags:

Pertanian – Peternakan

Posted by on Monday, October 24, 2011 · Leave a Comment  

Teman teman yang telah tamat dari Fakultas Pertanian, Peternakan, atau yang berusaha di bidang Agro Bisnis atau Budi Daya Hewan Ternak,  Pupuk atau tergabung dalam Lembaga lembaga Riset  untuk Perkembangan Teknologi bidang Industri bidang ini, kita berharap anda perluas wawasan teman teman alumni akan prospek kompetitif bidang unggulan ini.

 

Beberapa waktu yang lalu kita mengalami krisis Kedelai. Para Pengrajin Tradisional yang membuat Tahu dan Tempe, menjerit akan langka nya bahan baku. Langka berarti mahal, apalagi belakangan kita tahu bahwa ternyata Kedelai kita adalah hasil impor. Ditempat yang sama Petani Kentang harus menjadwalkan waktu rombongannya datang dari daerah daerah untuk berunjuk rasa  ke depan  Istana Negara untuk  menentang impor Kentang . Kalau Kedelai dan Kentang sampai di impor di Negara Agraris ini, sepertinya ada yang tidak beres dengan Manajemen Pertaniannya.

Coba direlusuri lebih dalam, ternyata masih ada Beras impor, Gula impor, Garam Impor, buah buahan impor, dll.  Jebakan yang terjadi di masa lalu di Benua Afrika, terjadi juga dinegeri kita. Pada awalnya rakyat di negara negara tersebut terpancing dengan harga murah yang ditawarkan dari kelebihan hasil panen di Eropa. Harga yang lebih murah dibandingkan hasil jerih payah dari bercocok tanam. Petani berhenti untuk produksi karena rugi. Giliran stok telah kosong, dan untuk menanam kembali membutuhkan waktu, maka dalam masa kekosongan itulah harga komoditi pertanian dari negeri luar itu menunjukkan wajah aslinya, tidak murah.

Belum lagi soal pupuk, petani harus berjuang dulu untuk mendapatkan pada Timing  yang tepat, itupun masih di terpa lonjakan harga serta bayang bayang  produk palsu.

Bidang Peternakan pun belum beranjak keluar dari peringkat tradisional dalam pengelolaannya. Malah kelihatannya Perusahaan Pangan Internasional mempunyai peran dalam meningkatkan harkat dan produksi hasil ternak ke kancah yang lebih profesional. Potensi luasan wilayah dan faktor alam yang mendukung, tidak dimanfaatkan sektor Peternakan untuk membesar sebagai suatu Industri yang masif dengan Negara sebagai Dirigen nya. Peternak adalah satuan satuan usaha yang harus berjuang sendiri untuk survive. Kolaborasi antara konglomerasi dan petani udang yang pernah dibangun adalah suatu bentuk contoh yang gagal.

 

Mengapa kita terlihat mengeluh pada bidang ini. Kita merasa heran karena  sejak kecil kita diajarkan bahwa negara kita Negara Agraris. Mayoritas pekerjaan penduduknya adalah Bertani. Tetapi mengapa kita masih mengimpor bahan pangan pokok. Mengapa Durian Thaiand dan Buah Buahan Impor bisa lebih merajai di Supermarket kita. Mengapa kita takut ketika Australia menghentikan ekspor daging sapinya ke negara kita. Mengapa tidak ada Proyek Massal Pencetakan Sawah baru untuk menggantikan lahan lahan yang berubah jadi Perumahan, Pabrik dll. Mengapa bukan sekolah sekolah Pertanian atau Peternakan yang mempunyai Mahasiswa terbanyak. Mengapa Malaysia bisa lebih besar dalam pengembangan Perkebunan Kelapa Sawit. Masih banyak deretan pertanyaan yang tidak sinkron dengan predikat negara agraris yang kita sandang. Untuk itu teman, mari kita ajak para Insinyur Pertanian dan Peternakan di komunitas kita ini untuk membuka cakrawala potensi ke agraris an kita.

 

 

Category: Uncategorized  |  Tags:

Protected: Members Post

Posted by on Monday, August 15, 2011 · Leave a Comment  

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Category: Uncategorized  |  Tags: